Ilustrasi kolam budidaya flok. DOK Unair
Ilustrasi kolam budidaya flok. DOK Unair

Mengenal Teknologi Bioflok, Sistem Budidaya di Lahan dan Air Terbatas

Pendidikan penelitian Riset dan Penelitian UNAIR
Renatha Swasty • 10 Mei 2022 12:05
Jakarta: Teknologi bioflok (BFT) merupakan salah satu sistem budidaya yang dapat menjadi alternatif akibat terbatasnya lahan dan air di masa mendatang. Sistem ini memungkinkan penggunaan padat tebar tinggi dalam lahan terbatas tanpa harus pergantian air.
 
Dosen Akuakultur Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga (Unair) Muhammad Hanif Azhar menjelaskan penggunaan sistem bioflok dapat signifikan memperbaiki kualitas air budidaya. Pasalnya, zat pencemar akan dirombak dan dikonversi menjadi gumpalan (flok) yang bisa dimakan oleh ikan atau udang.
 
Oleh karena itu, penggunaan sistem bioflok tidak memerlukan pergantian air berkala karena dapat mereduksi bahan pencemar dalam air. Selain itu, flok yang dihasilkan dari dekomposisi limbah organik dalam sistem bioflok dapat menjadi sumber nutrisi bagi ikan atau udang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pasalnya, flok yang terbentuk mengandung berbagai macam mikroba. Seperti plankton baik fitoplankton maupun zooplankton bakteri baik yang terasosiasi dalam senyawa extracellular polymeric substance.
 
“Di mana dalam senyawa tersebut mengandung beberapa komponen seperti protein, karbohidrat, lipid, asam nukleat dan zat humat. Oleh karenanya, flok dapat menjadi sumber nutrisi untuk meningkatkan pertumbuhan,” papar Hanif dikutip dari laman unair.ac.id, Selasa, 10 Mei 2022.
 
Hanif mengungkapkan ada beberapa syarat yang harus terpenuhi dalam pembentukan sistem bioflok. Salah satunya aerasi dan kandungan senyawa karbon (C).
 
Hal itu terjadi karena bakteri heterotrof memainkan peran utama dalam sistem bioflok. Bakteri heterotrof memerlukan C dan oksigen sebagai nutrisi untuk tumbuh dan mengoksidasi limbah organik.
 
“Selain untuk suplai oksigen, aerasi juga diperlukan guna menjaga agar air teraduk sehingga tidak menimbulkan sedimen yang membuat pembentukan flok tidak maksimal,” ujar Hanif.
 
Hanif menjelaskan supaya flok dapat terbentuk dalam sistem bioflok harus memiliki rasio karbon dan nitrogen (C/N rasio)= 10. Selain itu, dalam media (air) juga harus terdapat komposisi bakteri penghasil biopolimer yang berfungsi sebagai zat pengikat dalam flok.
 
“Beberapa di antaranya seperti spesies Zooglea ramigera, Bacillus subtilis, Bacillus cereus, Pseudomonas alcaligenes, Spachratilus natans dan Flavobacterium,” papar dia.
 
Beberapa bakteri tersebut juga menghasilkan senyawa Polyhydroxybutyrate (PHB) yang merupakan polimer intraseluler sebagai bentuk simpanan energi dan karbon. PHB dapat menjadi cadangan energi ikan, meningkatkan imunitas, dan mampu meningkatkan pertumbuhan.
 
Hanif juga menjelaskan beberapa aspek penting lain dalam penggunaan sistem bioflok seperti pH dan temperatur sebagai faktor pembatas metabolisme dan pertumbuhan bakteri dan konstruksi kolam. Dia mengungkapkan konstruksi kolam dalam sistem bioflok harus memungkinkan untuk tidak terbentuknya titik mati yang mengakibatkan pengadukan menjadi tidak maksimal.
 
“Oleh karena itu, umumnya penggunaan kolam bundar lebih sering dipakai dalam sistem bioflok karena mampu memaksimalkan pengadukan. Selain itu, konstruksi kolam juga harus tersedia saluran pembuangan untuk mengurangi flok apabila terlalu padat,” tutur dia.
 
Baca: Dosen Unair Ciptakan Intan Box, Inkubator Buatan untuk Penetasan Penyu
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif