Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Pakar UGM: Flu Burung Tidak Menular Antarmanusia

Citra Larasati • 06 November 2021 17:22
Jakarta:  Otoritas kesehatan Tiongkok melaporkan ada 21 kasus Avian Influenza (AI) atau flu burung pada manusia. Dilaporkan enam orang meninggal dunia dan beberapa orang lainnya masih kritis.
 
Beberapa ahli di sana menduga penularan ini dipicu oleh kemunculan varian baru virus flu burung dengan tipe H5N6.  Meski virus flu burung menjadi sumber ancaman wabah baru layaknya covid-19, namun menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. drh. R. Wasito, M.Sc., Ph.D., sangat kecil peluangnya.
 
Sebab, virus flu burung tidak dapat ditularkan langsung dari unggas ke manusia, namun harus melalui  hewan perantara. Selain itu, virus ini tidak dapat ditularkan dari manusia ke manusia. “Avian Influenza (flu burung) tidak dapat ditularkan langsung dari unggas ke manusia. Harus ada hewan perantara, terutama babi. Virus ini juga tidak dapat ditularkan dari manusia ke manusia,” kata Wasito menanggapi merebaknya kasus flu burung di Tiongkok, dikutip dari keterangan tertulisnya, Sabtu, 6 November 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan tingkat kemampuan penularan antar manusia tersebut, menurutnya penyakit flu burung tidak memiliki ancaman serius. Namun demikian, tingkat virulensi virus ini pada hewan unggas berbeda-beda tergantung dengan tingkat variannya.
 
“Virulensi AIV dapat berbeda-beda tergantung antigenisitasnya,” kata pakar penyakit flu burung ini.
 
Selain itu, virus ini menurut Wasito, juga mudah mati terkena panas. Untuk menekan tingkat penyebaran flu burung agar tidak terinfeksi ke manusia lewat hewan perantara dengan cara menekan jumlah unggas yang tertular atau mengisolasi mereka yang terpapar.
 
Soal flu burung yang bisa menyebabkan kematian pada manusia menurut Wasito memang kemungkinan besar bisa. Namun, hal itu perlu dilakukan pemeriksaan dan penelitian lebih lanjut dengan menentukan hasil biotipe baru AI yang terbentuk akibat faktor sifat pergeseran genetik dari virus tersebut.
 
Dapat (menyebabkan kematian), ditentukan hasil biotipe baru AI yang terbentuk akibat faktor sifat genetic shift atau genetic reassortment AI,” katanya.
 
Dari penelitian Wasito, flu burung juga dapat menular dari udara, namun  virus tersebut mati bila terkena panas. Meski flu burung saat ini tidak menjadi wabah baru, menurutnya pemerintah perlu mengadakan alat deteksi flu burung untuk manusia sekaligus melakukan mitigasi.
 
Selama ini untuk deteksi flu burung pada hewan unggas, ia menggunakan deteksi melalui PCR dengan menggunakan bahan impor. “Pada riset saya, semua kit impor,” katanya.
 
(CEU)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif