Krim antijerawat dari kulit durian. Foto: Dok. UB
Krim antijerawat dari kulit durian. Foto: Dok. UB

Krim Antijerawat dari Kulit Durian, Ini Kelebihannya

Pendidikan inovasi Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian Universitas Brawijaya Mahasiswa
Citra Larasati • 26 September 2021 08:28
Jakarta:  Lima mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB) membuat krim antijerawat yang dikombinasikan dengan bahan dasar limbah kulit buah durian.
 
Mereka adalah Putri Ayu M, Nur Khasanah, Annindea Erza N, Dzurrotin Qurrota A, dan Dita Rahmaningtyas dibawah bimbingan Zubaidah Ningsih AS, S.Si., M.Phil., Ph.D. Krim anti jerawat berbahan dasar limbah kulit buah durian dinilai lebih efektif dengan daya hambat sebesar 18,1 mm dibandingkan produk di pasaran yang mengandung tree tea oil dengan daya hambat sebesar 15,8 mm.
 
"Selain didukung dengan kemampuan daya hambat yang tinggi, kulit buah durian memiliki senyawa antibakteri seperti flavonoid, saponin, tannin, terpenoid, dan alkaloid,” kata Nur Khasanah, Minggu, 26 September 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengobatan jerawat yang umum dijumpai adalah pengobatan yang diberikan dengan cara dioleskan pada kulit (pengobatan topikal) dan pengobatan yang diberikan dengan cara dikonsumsi seperti obat (pengobatan sistemik). 
 
Pengobatan yang diberikan secara oles pada kulit memiliki efektifitas lebih tinggi dibandingkan pengobatan yang diberikan secara oral, karena hal tersebut dapat menimbulkan resistensi antibiotik di dalam tubuh. Sehingga untuk mendukung pengobatan secara oles dibuatlah krim anti jerawat melalui sebuah teknologi bernama nanoemulsi.
 
Teknologi nanoemulsi yang terdiri dari fase minyak dan air dengan ukuran droplet <200 nm serta luas permukaan yang besar ini dapat memberikan efek hidrasi, sehingga meningkatkan permeabilitas kulit dalam penetrasi obat dan mengurangi resiko peradangan jerawat.  Suatu teknik yang mendukung teknologi nanoemulsi ini adalah teknik mikrofluidisasi.
 
"Teknik ini dipilih karena dapat bekerja tanpa menaikkan temperatur sistem dan ukuran droplet nanoemulsinya dapat dikontrol sehingga dapat dihasilkan krim antijerawat dengan daya penetrasi yang lebih baik,” ucap Putri. 
 
Baca juga:  Mahasiswa USK Ciptakan Detektor Penyakit Paru Obstruksi Kronis
 
Proses pembuatan krim kulit durian pertama tama kulit durian dibersihkan terlebih dahulu dipotong tipis-tipis bagian dalam kulitnya, lalu dilakukan pengovenan pada suhu 60°C selama 2×24 jam kemudian dilakukan penimbangan beratnya dan penghalusan menggunakan blender lalu diayak.
 
Setelah itu dilakukan ekstrasi secara maserasi kemudian dipisah pelarutnya menggunakan rotary evaporator hingga memperoleh ekstrak kulit buah durian.
 
Berdasarkan uji bakteri yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan bahwa melalui teknik mikrofluidisasi dapat memengaruhi ukuran partikel sehingga diperoleh ukuran partikel yang lebih kecil dan memudahkan nanoemulsi gel masuk ke dalam sel bakteri sehingga didapatkan daya hambat yang lebih lebar. "Diharapkan dengan krim anti jerawat ini dapat membantu permasalahan penderita jerawat,” tambah Putri.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif