Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

BRIN dan RISH Jepang akan Bangun Radar Atmosfer EMU di Sumbar

Pendidikan Riset dan Penelitian BRIN
Antara • 20 September 2021 21:41
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berencana memasang Equatorial Middle and Upper Atmosphere (EMU) Radar di Kototabang, Agam, Sumatra Barat (Sumbar). Program ini bekerja sama dengan Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) Universitas Kyoto di Jepang.
 
"BRIN dan RISH berencana memasang EMU Radar yang bertujuan untuk mempelajari dan menangkap aliran energi dan material yang terjadi di semua rentang ketinggian atmosfer khatulistiwa atau dikenal sebagai air mancur khatulistiwa," kata Pelaksana tugas Kepala Kantor Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Didi Satiadi mengutip Antara, Senin, 21 September 2021.
 
EMU Radar merupakan radar atmosfer khatulistiwa yang lebih canggih dari Radar Atmosfer Khatulistiwa atau Equatorial Atmosphere Radar (EAR) yang sudah dibangun dan beroperasi sejak 2001 di wilayah yang sama.??????? EMU Radar akan dipasang berdekatan dengan EAR yang telah dibangun RISH Universitas Kyoto di Observatorium Atmosfer Khatulistiwa di Kototabang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengoperasian EAR didasarkan pada nota kesepahaman antara RISH dan Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, yang sebelumnya bernama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).
 
Baca: Mahasiswa UNS Ciptakan Alat Uji Hand Sanitizer Berbasis IoT
 
Vice Director RISH Universitas Kyoto Mamoru Yamamoto mengatakan pihaknya ingin meneliti air mancur khatulistiwa (equatorial fountain). Saat ini, RISH sedang mempromosikan proyek penelitian besar, yakni study of the coupling processes in the solar-terrestrial system.
 
Salah satu proses dominan energi matahari adalah radiasi matahari yang maksimum di daerah khatulistiwa. Makanya, RISH akan mempelajari respons terhadap input energi matahari di magnetosfer, ionosfer, atmosfer tengah, dan troposfer.
 
"Kami ingin melakukan studi terhadap atmosfer khatulistiwa dengan menggunakan instrumen yang jauh lebih baik. Karenanya, kami mengajukan Equatorial MU Radar," tutur Mamoru.
 
Mamoru menuturkan EMU Radar bersifat lebih sensitif dibanding EAR yang sudah ada. Antena pada EMU Radar juga lebih luas dan sensitif dibanding pada EAR.
 
"Kita bisa mendapatkan sinyal dari ketinggian yang jauh lebih tinggi dan juga kita dapat memperoleh lebih banyak data dengan resolusi yang lebih tinggi," ujar Mamoru.
 
RISH sedang menunggu untuk mendapat pendanaan pemasangan EMU Radar tersebut. EMU Radar akan dioperasikan di bawah kolaborasi BRIN dan RISH sebagaimana kedua pihak telah sukses dan terus berkolaborasi pada pengoperasian dan penggunaan EAR.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif