Tim Produksi Face Shield Mask membawa produknya bersama dengan tim Humas dari RSU dr Soetomo. Foto: Dok. ITS
Tim Produksi Face Shield Mask membawa produknya bersama dengan tim Humas dari RSU dr Soetomo. Foto: Dok. ITS

ITS Produksi APD untuk Bantu Tenaga Medis

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 25 Maret 2020 20:06
Jakarta: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mengeluarkan inovasi terbarunya. Setelah sebelumnya merancang sejumlah perangkat disinfeksi, kini ITS juga memperkenalkan salah satu Alat Pelindung Diri (APD) berupa Face Shield Maskuntuk membantu mencegah penyebaran wabah virus korona atau Coronavirus disease (covid-19).
 
Kepala Laboratorium Integrated Digital Design, Departemen Desain Produk Industri ITS selaku inventor,Djoko Kuswantomengungkapkan, target produksi dari Face Shield Mask ini dapat memenuhi 500 sampai 1.000 item setiap hari. “Sejak Sabtu (21 Maret) lalu, gagasan ini telah diupayakan untuk mencapai target tersebut,” ujar Djoko dikutip dari laman ITS, Rabu, 25 Maret 2020.
 
Dikatakan Djoko, panic buyingyangmenjadi salah satu bentuk respons masyarakat terhadap merebaknya covid-19 ini. “Dunia medis pun ikut terguncang, dengan berkurangnya APD, akibat panic buying, yang sebetulnya sangat dibutuhkan tenaga medis,” tutur Djoko.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jumlah APD yang kian menurun, menurut Djoko, yang menggugah ITS bersama Asosiasi Printer 3D Indonesia ikut memberikan bantuan APD dengan memproduksi Face Shield Mask ini.
 
Djoko yang juga Koordinator Asosiasi Printer 3D Indonesia chapter Jatim ini menjelaskan, Face Shield Mask dipilih karena mudah dibuat dengan estimasi waktu pembuatan yang terbilang cepat. “Apalagi, masker menjadi kebutuhan yang mendesak saat ini,” ungkapnya.
 
Berdasarkan dari data yang diterima Laboratorium Integrated Digital Design ITS, saat ini kebutuhan masker mencapai 270.000 buah. Didukung fakta tersebut, Djoko menuturkan bahwa akan ada dua jenis prosedur produksi yang diterapkan. Tujuannya adalah efisiensi kerja produksi.
 
Metode 3D Printing, kata Djoko, menjadi opsi pertama. “Cara kerjanya adalah dengan menata bahan berupa lelehan sehingga menjadi benda yang dikonsepkan,” terangnya menyederhanakan cara kerja additive 3D Printing.
 
Kelebihan metode 3D Printing sendiri, menurut Djoko, barang dapat terproduksi lebih detail sesuai yang dirancang. Akan tetapi, untuk kondisi gawat seperti saat ini, 3D Printing memakan waktu produksi yang cenderung lama.
 
Maka, lanjutnya, alat yang dikenal dengan CNC Router menjadi opsi untuk mengatasi hal itu. CNC Router merupakan mesin yang dilengkapi dengan Digital Signal Processing (DSP) dalam proses memotong atau mengukir suatu bahan tertentu.
 
Secara singkat, Djoko menuturkan bahwa sistem kerja dengan CNC Router adalah substraktif atau dengan melakukan pengurangan. “Dari bahan yang utuh, bahan diukir sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang diinginkan,” bebernya.
 
Dengan menggunakan bantuan CNC Router, bekerja sama dengan Laboratorium Protomodel ITS, kecepatan produksi Face Shield Mask ini diharapkan dapat segera memenuhi kebutuhan. Khususnya permintaan di Jawa Timur yang telah mencapai 35.000 buah.
 
Djoko menyebutkan, satu CNC Router memiliki kecepatan produksi hampir sama dengan 200 sampai 400 printer sekaligus. “CNC Router kemudian kami pilih sebagai cara yang diprioritaskan,” ujarnya.
 
Dari dua prosedur yang diterapkan, diambil juga dua bahan yang menjadi komposisi satu jenis dari APD ini. Kata Pendiri Rumah Prototesis Indonesia ini, digunakan dua jenis plastik untuk membuat masker darurat, yaitu plastik High Density Polyethylene (HDPE) dan Polyethylene terephthalate (PET).
 
"Masker darurat ini pun harus diproduksi dengan memperhatikan keamanan bahan yang digunakan," jelasnya
 
Kedua jenis plastik yang dipilih, menurut Djoko, adalah dua jenis plastik yang aman digunakan termasuk untuk kepentingan medis. Pasalnya, dua jenis plastik itu juga dapat digunakan sebagai pengemas bahan pangan.
 
Selain itu, baik plastik HDPE dan PET, keduanya sama-sama mudah ditemukan di pasaran. “Kemudahan ini begitu mendukung proses produksi, di tengah anjuran untuk social distancing,” sebutnya.
 
Soal distribusi produk, Djoko menyampaikan, topeng masker ini hanya diperuntukkan bagi lembaga klinis yang membutuhkan. Memperjelas pernyataannya, ia menyebutkan pembagian yang tanpa biaya ini memiliki alur prosedur distribusi yang tidak sembarangan.
 
“Kami tidak ingin ada kesalahan penyaluran kepada yang kurang membutuhkan,” tegasnya.
 
Tim yang ada terbagi menjadi empat divisi, yaitu pendataan permintaan, produksi, perakitan, dan distribusi. Hal itu merupakan salah satu bentuk upaya mencegah terjadinya kesalahan dalam penyaluran masker gratis ini.
 
Mengikuti rekomendasi dari jajaran dekanat Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital ITS, permintaan yang akan diproses adalah yang mengikuti alur pemesanan kebutuhan.
 
Bagi lembaga klinis yang ingin mengajukan permintaan kebutuhan, alur yang harus ditempuh adalah dengan menyiapkan surat permintaan resmi dan melampirkannya bersama formulir online yang disediakan. Detail dari prosedur dapat diketahui melalui narahubung tim penggerak produksi Face Shield Mask ini, termasuk Djoko sendiri.
 
Djoko meminta doa dan dukungan, serta partisipasi siapa saja yang tergerak untuk ambil bagian sebagai relawan dalam proses produksi ini. “Akan ada pelatihan yang terkoordinir bagi relawan, sehingga social distancing tidak jadi halangan untuk mengupayakan keberhasilan mencapai target produksi yang tinggi,” pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif