Ilustrasi nyamuk. Foto: Medcom.id
Ilustrasi nyamuk. Foto: Medcom.id

Perkembangan Teknologi Wolbachia UGM Mulai Menunjukkan Hasil

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Citra Larasati • 13 Agustus 2020 16:22
Jakarta: Penyebaran nyamuk yang mengandung wolbachia akan terus dilakukan untuk mengembangkan teknologi dalam menekan penyebaran penyakit demam berdarah. Sudah sembilan tahun tim riset Universitas Gadjah Mada (UGM) tergabung dalam World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta untuk mengembangkan teknologi tersebut.
 
Peneliti yang tergabung dalamWorld Mosquito Program (WMP) Yogyakarta Dr. Warsito Tantowijoyo dan Eggi Arguni, Ph.D. mengatakan, nyamuk aedes aegypti dikenal sebagai vektor pembawa virus dengue. Namun nyamuk ini tidak akan mampu menularkan virus dengue ke tubuh manusia, apabila di dalam tubuhnya mengandung bakteri wolbachia.
 
Sebab, wolbachia akan menahan replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk. “Memang tidak nampak ada perubahan pada nyamuk, namun virus dengue tidak bisa berkembang karena wolbachia memblokade proses replikasi,” kata pakar entomolog UGM ini, dalam siaran pers, Kamis, 13 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak hanya menahan laju replikasi, bahkan dengan adanya wolbachia di dalam tubuh nyamuk akan menyebabkan jumlah virus dengue pun menjadi sedikit. “Potensinya untuk menulari dengue jadi sangat rendah,” paparnya.
 
Warsito menuturkan, penelitian yang dilakukan sejak 2011 dan dimulai dari dusun Kronggahan Sleman ini dilanjutkan di beberapa kecamatan di Kota Yogyakarta. Penelitian ini telah menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan.
 
Meski di awal pihaknya kesulitan dalam menyosialisasikan program ini ke masyarakat. Salah satunya karena dianggap menyebarkan penyakit demam berdarah dengan melepas nyamuk di sekitar rumah mereka.
 
“Bukan sesuatu yang mudah, bahkan dianggap kontradiktif, di satu sisi selama ini ada program pengendalian nyamuk dan kita malah menyebarkan,” katanya.
 
Menurutnya, di awal riset ini mereka banyak melakukan pekerjaan di laboratorium dengan mengembangkan populasi nyamuk yang mengandung wolbachia. Selanjutnya populasi nyamuk berwolbachia disebarkan di setiap rumah penduduk.
 
Meski populasinya belum mampu memengaruhi total nyamuk yang ada, namun ia berkeyakinan jumlah nyamuk wolbachia baik jantan dan betina akan terus bertambah karena akan berkembang biak terus di alam liar. “Kita akan hentikan penyebarannya jika keturunan wolbachia sudah mencapai 60 persen dari total populasi nyamuk di suatu tempat,” katanya.
 
Eggi selaku anggota tim peneliti WMP menambahkan, pada tahap awal pelaksanaan penelitian ini pihaknya banyak berdialog dengan masyarakat agar mereka bisa diajak bekerja sama dalam pengembangan teknologi wolbachia. “Kita lebih banyak mendorong komunikasi dengan warga,” ujarnya.
 
Penerapan teknologi wolbachia pada nyamuk menurut Eggi tak ubahnya meningkatkan imunitas nyamuk sendiri agar bisa terlindungi dari infeksi virus dengue. “Ini mirip vaksinasi agar nyamuk punya imunitas dari virus,” katanya.
 
Menurutnya, nyamuk yang yang mengandung wolbachia akan mengalami modifikasi RNA sehingga virus dengue tidak bisa melakukan replikasi di dalam sel tubuh nyamuk. ”Nyamuk yang tidak punya wolbachia, replikasi virus dengue sangat tinggi dibanding nyamuk yang ada wolbachianya,” terangnya.
 
Sebelumnya, terhitung sudah sembilan tahun tim riset UGM yang tergabung dalam Word Mosquito Program (WMP) Yogyakarta mengembangkan teknologi wolbachia untuk menekan penyebaran penyakit demam berdarah.
 
Setidaknya daerah yang menjadi lokasi riset penyebaran nyamuk berwolbachia di Daerah Istimewa Yogyakarta mampu menurunkan jumlah tingkat insidensi kasus demam berdarah. Namun begitu, penyebaran nyamuk wolbachia akan dihentikan apabila populasinya sudah mencapai sekitar 60 persen.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif