Tim riset IAIN Takengon. DOK Kemenag
Tim riset IAIN Takengon. DOK Kemenag

IAIN Takengon Teliti Literatur dan Budaya Gayo

Renatha Swasty • 17 Mei 2022 20:53
Jakarta: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon tengah meneliti literatur dan budaya Gayo. Riset untuk memperkuat muatan isi pembelajaran literatur dan budaya Gayo.
 
Riset juga sejalan dengan upaya penguatan moderasi beragama melalui pelestarian budaya. "Tim peneliti akan fokus pada sistematisasi data agar bisa disajikan dengan lebih mudah kepada pembaca," kata Rektor IAIN Takengon Zulkarnain dikutip dari laman kemenag.go.id, Selasa, 17 Mei 2022.
 
Zulkarnain menuturkan IAIN Takengon sejak sebelum proses penegerian, telah mengajarkan mata kuliah institusional, yaitu Literatur dan Budaya Gayo. Awalnya, mata kuliah ini disebut Syari'at dan Adat Gayo.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Muatan syari'at dan adat tentu telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari mata kuliah literatur dan budaya Gayo," jelas dia.
 
Dia menyebut riset dalam rangka pengembangan muatan isi mata kulaih Literatur dan Budaya Gayo. Riset diharapkan akan mendapat data objektif, termasuk pertumbuhan dan perkembangan etos keilmuan oleh cendekia zaman dulu, secara lebih khusus setelah Indonesia merdeka.
 
Secara Geografis, wilayah Gayo zaman dulu masih terisolasi. Sehingga, untuk memasarkan hasil bumi, seperti tembakau dari Takengon ke Kota Biruen, ditempuh dengan jalan kaki sekitar tiga hari tiga malam. Uang hasil menjual tembakau dibuat untuk  membeli kebutuhan dapur, seperti garam.
 
"Jadi, sejak dulu, masyarakat Gayo dikenal pekerja keras. Bahkan, mereka harus melakukan perjalanan pulang pergi dari Takengon ke Biruen hingga enam hari untuk memenuhi kebutuhan," papar Zulkarnain.
 
Semangat kerja keras juga tercermin pada etos mencari ilmu. Sejak dulu, sejumlah putra Gayo ada yang belajar di wilayah Aceh Utara dan sekitarnya. Bahkan, sudah ada juga yang berangkat belajar ke Thawalib (putra) Padang Panjang.
 
"Akses yang sulit, jarak tempuh yang jauh dari Gayo ke Thawalib tidak menyurutkan semangat. Mereka tempuh karena tekad ingin memperoleh ilmu, berguru pada orang yang tepat," sebut dia.
 
Zulkarnain menyebut Thawalib Padang Panjang sejak dulu telah menjadi salah satu lembaga pendidikan yang sudah cukup terkenal pada waktu itu. Pendidik (ulama kharismatik) di Thawalib ini menjadi pertimbangan bagi santri mendatangi tempat ini, termasuk sejumlah putra Gayo.
 
"Di antara nama putra Gayo yang telah belajar ke Thawalib waktu itu Almarhum Lathif Rusydi, Moh Ali Djadun, Mahmud Ibrahim," sebut dia.
 
Basis keilmuan yang telah mereka pelajari di Thawalib ini membekas sangat kuat. Sehingga, ketika kembali dari belajar di Thawalib dan berada di tengah masyarakat, mereka hadir dan berkiprah menjadi guru bagi masyarakat sekitar.
 
"Jejaring sanad keilmuan inilah yang diteliti oleh tim yang terdiri dari Zulkarnain, Saumiwaty, dan Ihsan Harun. Semoga penelitian ini dapat dirampungkan tahun ini juga," tutur dia.
 
Baca: Anggaran Riset dan Penelitian Indonesia Terendah di Asia Tenggara
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif