Menristek Bambang Brodjonegoro. Foto: Medcom.id
Menristek Bambang Brodjonegoro. Foto: Medcom.id

Tim Genomics Surveillance Gandeng Pihak Luar Negeri

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Ilham Pratama Putra • 11 Januari 2021 18:21
Jakarta: Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjalin kerja sama untuk membentuk Tim Genomic Surveillance.  Tim ini memiliki tugas khusus untuk mendeteksi virus covid-19 di Indonesia.
 
Bukan sekadar meneliti keberadaannya, tim tersebut juga akan melihat mutasi covid-19 yang ada. Hal ini sebagai langkah percepatan penanganan virus korona di Tanah Air.
 
Tim tersebut tidak hanya diisi oleh dua kementerian. Keduanya juga membangun relasi dengan pihak luar negeri untuk menambah wawasan terkait data mutasi virus yang ada.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami justru otomatis bekerja sama dengan luar negeri, karena bagian dari genome surveillance itu pertama kita harus banyak mengirimkan dan menerima whole genome sequencing," kata Menristek, Bambang Brodjonegoro dalam konferensi pers daring, Senin 11 Januari 2021.
 
Dengan kerja sama itu, dia berharap Indonesia bisa mengolah 1.000 data virus. Sejauh ini data virus sejenis flu baru ada 180 di Indonesia.
 
"Intinya kita akan selalu kerja sama dengan luar negeri karena kewajiban kita adalah sharing data," ungkapnya.
 
Selain dengan pigak luar negeri, sebelumnya Bambang juga menyebut lembaga dalam negeri  bakal terlibat dalam tim ini. Misalnya Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman dan juga perguruan tinggi.
 
"Di antaranya juga Eijkman, dan kita akan libatkan perguruan tinggi dan lembaga yang sudah banyak terlibat genome sequencing," kata Bambang dalam Penandatanganan MoU Kementerian Kesehatan dan Kementerian Ristek/BRIN secara virtual, Jumat 8 Desember 2021.
 
Baca juga:  Laboratorium BSL-2 Mobile Bisa Uji 1.000 Sampel Swab per Hari
 
Bambang mengatakan, keberadaan tim ini sangat penting. Mengingat banyaknya mutasi virus yang saat ini muncul seperti varian Inggris.
 
"Kita ingin mempelajari dengan cepat apabila terjadi penyakit yang ternyata lebih berat. Kita juga perlu mendalami penanganan pasien dari hasil tim genomic surveillance," sambungnya.
 
Terlebih, kata Bambang, saat ini vaksinisasi akan segera dimulai. Dia mengatakan, jangan sampai mutasi yang ada saat ini malah menghalangi efektivitas vaksin.
 
"Saat ini belum ada hambatan untuk efektivitas vaksin dari mutasi yang ada. Tapi kita tidak bisa terlalu lega, terlalu cepat lega karena di situ itulah fungsi genomic surveillance," pungkasnya.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif