Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Indonesia Butuh Minimal 350 Juta Dosis Vaksin Covid-19

Pendidikan Virus Korona Riset dan Penelitian vaksin covid-19
Ilham Pratama Putra • 15 Oktober 2020 09:58
Jakarta: Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio mengatakan minimal 173 juta warga Indonesia harus mendapat vaksin virus korona (covid-19). Perhitungan ini guna mencapai kekebalan imunitas atau herd immunity.
 
"Jika melihat infeksi penularan satu orang bisa menularkan virus kepada dua sampai tiga. Jika ingin mendapatkan kekebalan setidaknya setengah populasi jumlahnya 173 (juta orang), misal 175 juta lah masyarakat harus divaksinisasi," kata Amin dalam diskusi daring 'Vaksin Merah Putih: Tantangan dan Harapan', Rabu, 14 Oktober 2020.
 
Amin mengatakan, tantangan terbesar yang dihadapi pun yakni ketersediaan vaksin. Pasalnya, satu orang harus mendapatkan dua dosis vaksin. Kebutuhan yang besar tersebut membuat Indonesia tidak mungkin mengandalkan vaksin dari luar negeri. Indonesia harus memiliki vaksin buatan dalam negeri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Karena kapasitas produksi di dunia pun hanya kurang lebih separuh dari jumlah penduduk dunia, hanya sekitar 3 miliar vaksin untuk 7 miliar penduduk," lanjut Amin.
 
Dia memprediksi Indonesia hanya kebagian satu juta dosis vaksin buatan luar negeri dalam sepekan. Sementara, minimal 173 juta warga Indonesia harus divaksinisasi.
 
"Berarti butuh 350 juta dosis. Kalau satu minggu cuma ada satu juta dosis, maka kita butuh waktu 350 minggu. Artinya tujuh tahun baru selesai program vaksinasinya. Itu kalau kita tergantung ke luar negeri," ungkap Amin.
 
Baca:Vaksin Covid-19 Jadi Tonggak Pemulihan Ekonomi Nasional
 
LBM Eijkman pun terus mengebut pengembangan vaksin Merah Putih. Vaksin buatan dalam negeri itu dikembangkan Eijkman bersama PT Biofarma dan perusahaan farmasi asal Tiongkok Sinovac.
 
Amin mengatakan pengembangan vaksin covid-19 Merah Putih mencapai 55 persen. Dia berharap bibit vaksin sudah bisa diuji pra klinik pada akhir tahun. "Uji coba ke hewan bulan depan kalau semua lancar. Sehingga akhir tahun sudah selesai," terangnya.
 
Awal tahun depan, bibit vaksin rencananya bisa diserahkan kepada perusahaan Biofarma untuk uji klinis lanjutan. Ada tiga tahap uji klinis yang harus dilewati. Dia memastikan vaksin yang dikembangkan ini bakal cocok dengan masyarakat Indonesia. Pasalnya, vaksin yang dibuat mengambil sampel virus yang ada di Indonesia.
 
"Jadi vaksin dikembangkan menggunakan virus yang bersikulasi diIndonesisa, kemudian penelitiannya ada di Indonesia oleh institusi yang ada di Indonesia, oleh para peneliti Indonesia dan untuk rakyat Indonesia. Jadi memang dari oleh dan untuk Indonesia," tutup Amin.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif