Ketua Dewan Pembina Sahabat Parkinson, Jody Koesmendro, menyoroti rendahnya pemahaman masyarakat yang berimbas langsung pada minimnya kepedulian serta keterlambatan penanganan klinis.
“Banyak penderita tidak mengetahui kalau dirinya sudah terkena gejala Parkinson. Selain itu, belum semua dokter spesialis saraf memahami penyakit ini. Akibatnya, penanganannya masih belum optimal,” jelasnya dalam talkshow Indonesia Parkinson Ecosystem Forum 2026, dikutip Kamis, 24 September 2026.
Jurnal Ilmiah
Berdasarkan data dari jurnal ilmiah ternama The BMJ, angka penderita Parkinson di tingkat global diproyeksikan meroket hingga 112 persen pada tahun 2050, menyentuh lebih dari 25 juta jiwa. Fakta medis ini menjadi sebuah peringatan (red flag). Pasalnya, meski selama ini didominasi oleh pasien lanjut usia (lansia), Parkinson nyatanya juga mengintai kelompok usia produktif dan anak muda.Masyarakat juga kerap mengalami miskonsepsi soal gejala. Parkinson tak hanya ditandai dengan tremor atau getaran. Tanda klinis lainnya mencakup kekakuan pada kaki yang menghambat mobilitas penderita untuk berjalan, hingga melemahnya pita suara. Manifestasi gejala ini bersifat sangat personal dan bisa berbeda pada setiap pasien.
Oleh karena itu, kehadiran Sahabat Parkinson diharapkan mampu menjadi mitra strategis pemerintah untuk mengedukasi dan menangani penyakit ini dari akar rumput.
“Kami ingin bermanfaat dan ingin menyediakan wadah untuk informasi bagi para penderita Parkinson dan juga para caregiver, terutama bagi mereka yang berada di pelosok dan pulau-pulau yang jauh,” tegasnya.
Secara klinis, tata laksana Parkinson menuntut pendekatan holistik antardisiplin ilmu kedokteran, mengingat dampaknya yang menyerang dan merusak berbagai fungsi organ.
Ketua Pokja Movement Disorders Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI), dr. Banon Sukoandari, Sp. N, memaparkan bahwa saat ini terdapat sekitar 2.700 dokter spesialis saraf dari Sabang sampai Merauke. Sayangnya, sebarannya masih tersentralisasi di Pulau Jawa, khususnya Jakarta dan Sumatra.
Secara rasio, angka tersebut sejatinya sudah mendekati standar ideal jika dikomparasikan dengan populasi Indonesia yang mencapai sekitar 270 juta jiwa. “Kondisi saat ini sudah hampir ideal karena satu dokter spesialis saraf bisa menangani 114 pasien Parkinson. Namun yang terpenting adalah meningkatkan kualitas dan mengatasi persebaran dokter yang masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia,” jelasnya.
Di sisi akses pembiayaan, Claim Advisor BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Selatan, dr. Darmayanti Utami, memastikan bahwa obat-obatan untuk Parkinson telah dijamin dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Meski demikian, dr. Darmayanti menekankan bahwa tantangan krusial saat ini bermuara pada kapabilitas deteksi dini. Faskes tingkat pertama diharapkan memiliki sensitivitas tinggi untuk mengenali dan mengidentifikasi gejala Parkinson sedini mungkin, sehingga laju perburukan kondisi pasien dapat segera dicegah.