Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Uji Klinis Vaksin Merah Putih Paling Cepat Pertengahan Tahun Ini

Pendidikan Virus Korona Riset dan Penelitian vaksin covid-19 Vaksinasi covid-19 Bambang Brodjonegoro
Arga sumantri • 27 Januari 2021 19:32
Tangerang Selatan: Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengungkapkan uji klinis Vaksin Merah Putih paling cepat bakal dilaksanakan pada pertengahan tahun ini. Terdapat sejumlah perguruan tinggi dan lembaga riset yang saat ini melakukan pengembangan bibit vaksin covid-19 buatan dalam negeri tersebut.
 
"Paling cepat uji klinis tahap satu itu, mungkin sesudah atau sekitar pertengahan tahun ini," ujar Bambang dalam Review Kinerja dan Outlook Kemenristek/BRIN di Graha Widya Bhakti Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu, 27 Januari 2021.
 
Bambang mengungkapkan, saat ini sudah ada enam pihak yang terdiri dari lembaga dan perguruan tinggi, sedang mengembangkan bibit vaksin covid-19 Merah Putih. Mereka yakni Lembaga Bio Molekuler (LBM) Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Airlangga (UNAIR), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Enam lembaga tersebut mengembangkan vaksin Covid-19 dengan platform yang berbeda. Eijkman mengembangkan dengan platform protein rekombinan, UI dengan platform DNA, MRNA, dan virus like particle (VLP).
 
Baca: Inovasi yang Disiapkan Kemenristek untuk Bantu Penanganan Bencana
 
Sementara, UNAIR menggunakan platform adenovirus, ITB juga adenovirus. Lalu, UGM menggunakan protein rekombinan dan LIPI juga dengan platform protein rekombinan.
 
"Karena mulainya berbeda-beda maka ada kemungkinan dari enam ini, ada tiga yang kemungkinan bisa segera menyelesaikan bibit vaksin untuk diserahkan kepada Biofarma. yaitu Eijkman, UI, dan UNAIR," ujar Bambang. 
 
Bambang menekankan, lembaga riset dan perguruan tinggi hanya berperan dalam menemukan bibit vaksin. Proses selanjutnya dilakukan perusahaan farmasi. 
 
Setelah penemuan bibit vaksin, perusahaan farmasi melakukan purifikasi, lalu scaling up dari bibit vaksin dan uji preklinik. Setelahnya, baru bisa melakukan uji klinis. Sebelum uji klinis pun terdapat persyaratan, antara lain harus memiliki ethical clearance hingga izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
 
"Jadi memang kendali waktu, setelah kami menyerahkan bibit vaksin. Katakan sekitar bulan Maret itu akan lebih banyak di sisi manufacturing," ujar Bambang.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif