Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Vonis Hakim Lebih Ringan dengan Alasan Sopan, Ini Kata Pakar Hukum Pidana Unair

Pendidikan Hukum Pengadilan Rachel Vennya UNAIR Gaga Muhammad
Arga sumantri • 14 Januari 2022 11:23
Surabaya: Belakangan, ramai informasi kasus selebgram Rachel Vennya dan Gaga Muhammad yang mendapat keringanan hukuman atas kesalahan yang mereka lakukan. Alasan keringanan tersebut yakni keduanya yang bersikap sopan selama persidangan.
 
Rachel Vennya jadi terdakwa lantaran kabur ketika masa karantina selepas kepulangan dari New York. Menurut Pasal 93 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan, ia seharusnya mendapat hukuman penjara maksimal satu tahun dan atau denda paling banyak Rp100 juta. Rachel Vennya tidak dihukum penjara karena bersikap kooperatif saat persidangan sehingga dianggap sopan.
 
Sementara, Gaung Sabda Alam Muhammad atau Gaga Muhammad yang karena kelalaiannya dalam berkendara mengakibatkan kecelakaan. Ia didakwa Pasal 310 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. Namun kemudian dirinya hanya dihukum 4,5 tahun penjara dengan alasan sopan dan masih muda. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pakar Hukum Pidana Universitas Airlangga (Unair) Sapta Aprilianto menyebut bahwa keringanan yang didapat oleh dua figur publik tersebut memang termasuk hak putusan hakim. Namun demikian, hakim harus mempertimbangkan adanya keringanan hukuman secara ketat. 
 
"Karena kalau hanya dengan alasan sopan lantas mendapat keringanan, maka itu tidak adil," ujar Sapta mengutip siaran pers Unair, Jumat, 14 Januari 2022.
 
Baca: Fenomena Spirit Doll dalam Pandangan Filsafat Manusia
 
Dosen Fakultas Hukum Unair itu juga menganggap hakim mengutamakan sikap sopan untuk meringankan hukuman, akan mencederai nilai hukum. "Hal itu tidak sesuai dengan nilai hukum yakni keadilan, kemanfaatan, dan kepastian,' tuturnya.

Faktor-Faktor yang Sesungguhnya dapat Meringankan Hukuman

Sementara itu, ia menjelaskan, mengenai faktor sebenarnya yang bisa meringankan hukuman seseorang yaitu fakta-fakta hukum dan latar belakang terdakwa. Misalnya, terdakwa selama ini berkelakuan baik dan melakukan kesalahannya dengan tidak ada niat buruk.
 
"Maka saya setuju jika mendapatkan keringanan hukuman. Memang secara formal bahwa undang-undang tidak mengatur keringanan yang demikian itu, namun hakim dapat mempertimbangkannya," papar Sapta. 
 
Meskipun dalam lingkup ada keringanan hukuman, namun terdakwa tetap akan mendapat putusan bersalah. Hanya saja memang hukumannya diringankan atau tidak menjalani hukuman penjara.
 
Baca: Sosiolog UGM: Pencegahan Klitih Dimulai dari Keluarga

Sikap Bijak Ketika Tidak Puas dengan Putusan Hakim

Terkait beberapa kasus yang dirasa publik tidak adil seperti terjadi pada Rachel Vennya dan Gaga Muhammad, memang menimbulkan perbincangan di masyarakat. Hal itu menuai banyak kontra karena dianggap tidak sesuai dengan prinsip keadilan dalam hukum.
 
Namun mengenai rasa ketidakpuasan tersebut, Sapta menyebut bahwa hal itu berlaku sebagai hukum dan harus dihormati. "Jadi terdakwa hanya bisa mengajukan upaya banding atau kasasi terhadap putusan tersebut untuk kemudian dapat dilakukan peninjauan kembali," terang Sapta.
 
Sementara itu, kata dia, apabila sikap hakim sudah dirasa melanggar kode etik, maka ada tindakan dari Komisi Yudisial (KY). "KY hanya terbatas pada kode etik dan tidak bisa merubah putusan hakim," ungkapnya.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif