Ilustrasi. pexels.com
Ilustrasi. pexels.com

Identik dengan Horor, Ini 4 Hasil Penelitian Tentang Santet

Pendidikan penelitian inovasi Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian UGM Santet
Sri Yanti Nainggolan • 17 September 2021 17:26
Jakarta:  Tim PKM-RSH Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan penelitian terkait pemahaman masyarakat terhadap santet. Penelitian itu mengungkapkan sejumlah fakta terkait santet, termasuk pergeseran makna dari positif ke negatif. 
 
Penelitian ini berangkat dari fenomena beragamnya persepsi masyarakat mengenai santet.  Pemahaman masyarakat Indonesia secara umum terhadap santet dapat dibilang hanya sampai pada simpang siur tanpa adanya bukti valid.
 
Baca: Mahasiswa UGM Telusuri Jejak Penanganan Wabah Lewat Kesusastraan Jawa

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berikut adalah beberapa hasil penelitian terkait santet yang diteliti berdasarkan sisi sejarah dan budaya. 

1. Tak ditemukan manuskrip terkait santet

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberadaan santet dengan segala ruang praktik dan nalar positif dalam masyarakat Jawa terekam dalam peninggalan-peninggalan tekstual seperti manuskrip dan aktivitas manusia pada waktu itu.
 
Secara tekstual, kata santet tidak ditemukan dalam manuskrip. Kata yang memiliki hubungan erat dengan santet adalah kata sathet (dalam Serat Wedhasatmaka tahun 1905) yang berarti ‘jenis pesona dengan menggambar’.
Identik dengan Horor, Ini 4 Hasil Penelitian Tentang Santet

Kampus UGM. Foto: UGM/Humas

2. Sifat utama santet adalah merekatkan

Berdasarkan wawancara yang dilakukan tim dengan Wisma Nugraha, C.R., M.Hum. (Dosen FIB UGM), meskipun secara tekstual kata santet tidak terdapat dalam beberapa manuskrip sebagai objek kajian data, hal ini dirasa wajar. Sebab dalam kasusastran Jawa, santet merupakan akronim dari mesisan kanthet dan mesisan benthet. 
 
Selanjutnya, berdasarkan hasil wawancara dengan Perdunu (Persatuan Dukun Nusantara), masyarakat Jawa khususnya Banyuwangi, terungkap bahwa sifat dari santet adalah membuat sesuatu menjadi rekat sekalian (mesisan kanthet) ataukah justru sebaliknya, yaitu membuat sesuatu menjadi retak atau pecah sekalian (mesisan benthet).
 
Halaman Selanjutnya
  3. Paradigma positif dan…
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif