Ilustrasi. Foto: Dok Pexels.com
Ilustrasi. Foto: Dok Pexels.com

Fenomena Artis Adopsi Boneka Arwah, Sensasi Atau Gangguan Kejiwaan?

Pendidikan kesehatan mental gangguan mental UNAIR spirit doll
Arga sumantri • 06 Januari 2022 14:43
Surabaya: Belakangan, jagat hiburan digemparkan dengan tren adopsi spirit doll atau boneka arwah yang dilakukan oleh pemengaruh (influencer). Beberapa pemengaruh bahkan tidak segan untuk merawat para boneka arwah layaknya seorang bayi.
 
Psikolog Universitas Airlangga (Unair) Nurul Hartini melihat fenomena tersebut sebagai hal yang patutu menjadi perhatian. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (FPsi UNAIR) itu menyebut bahwa tindakan tersebut telah mengarah kepada perilaku yang tidak wajar. 
 
"Ketika seseorang menganggap boneka tersebut hidup dan percaya bahwa mereka akan bertumbuh besar, maka hal itu telah keluar dari batas akal sehat. Perilaku tersebut menjadi keanehan tersendiri yang disebabkan oleh berbagai faktor," tutur Profesor Nurul, mengutip siaran pers Unair, Kamis, 6 Januari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Salah satu faktor yang mungkin ada yakni mengikuti tren di kalangan selebritis. Bisa jadi, ada juga yang sekadar mencari sensasi demipopularitas. Meskipun demikian, segala sesuatu tetap ada batasnya agar justru tidak merugikan kesehatan mental.
 
"Karena apabila perilaku tersebut dibiarkan terjadi secara terus-menerus, maka akan berdampak terhadap kondisi kesehatan mental seseorang," ungkapnya.
 
Baca: Viral Artis Adopsi Boneka Arwah, Begini Kata MUI
 
Ia menilai, jika ketidakwajaran itu tidak segera dihentikan, maka bisa berisiko pada keadaan psikopatologinya atau ketidakstabilan fungsi kejiwaan yang meliputi indera, kognisi, dan emosi. Segala kondisi berisiko tersebut harus ditangani sedini mungkin.
 
"Agar tidak semakin sulit untuk mengembalikan kepada kondisi yang rasional dan realistis," jelasnya.
 
Sejatinya, bagi sebagian orang bahwa boneka dapat menjadi strategi pemulihan mental atau coping stress. Misalnya, ketika seseorang pernah kehilangan anaknya, maka boneka dapat menjadi terapi psikologis bagi mereka. 
 
"Karena secara psikologis juga boneka bisa menjadi sarana penyegaran pikiran bagi individu selama tidak berlebihan dan harus tetap di bawah pendampingan dari psikolog atau psikiater," ungkap Nurul.
 
Namun, terlepas dari manfaat tersebut, sejatinya boneka hanyalah benda mati. Mereka hanya menjadi perangkat yang tidak memiliki hal-hal khusus, kecuali hanya pengaruh dari perlakuan sang pemilik. 
 
Baca: Adopsi Boneka Bisa Bikin Bicara Sendiri , Psikolog: Itu Halusinasi Berlebihan
 
Ketika boneka diperlakukan secara spesial, Nurul mengimbau agar mencari tahu alasannya. Apabila hanya mengarahkan kepada perilaku negatif yang melampaui batas kewajaran, maka harus segera dihentikan agar tidak terjebak pada situasi yang kurang sehat, baik secara psikologis maupun mental.
 
"Sebagai orang yang mungkin dekat dengan individu yang berperilaku di luar batas tersebut, tentu kita memiliki kewajiban untuk membantu mereka. Terlebih dahulu kita menanyakan penyebab mereka untuk bertindak demikian. Selagi jawabannya masih rasional, ya tidak apa-apa,” lanjutnya.
 
Lain halnya ketika ketidakwajaran semakin jelas terlihat, yakni benar-benar menganggap boneka tersebut hidup, maka dapat memberi nasihat bahwa perilaku mereka mulai mengkhawatirkan. Terakhir jika masih tidak ada perubahan, maka dapat membantu mengarahkan mereka untuk datang ke psikolog atau psikiater.
 
"Kuncinya adalah rasional, realistis, dan proporsional. Selama tiga hal itu terpenuhi, maka kita senantiasa objektif dalam memikirkan, merasakan, dan melakukan segala hal," ucap anggota Ikatan Psikologi Klinis Indonesia tersebut.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif