Eucalyptus dalam berbagai bentuk produk. Foto: Dok. Kementan
Eucalyptus dalam berbagai bentuk produk. Foto: Dok. Kementan

Pakar UGM: Kalung Eucalyptus Belum Terbukti Sebagai Antivirus Covid-19

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Citra Larasati • 06 Juli 2020 13:26
Jakarta: Belum lama ini Kementerian Pertanian (Kementan) merilis produk kalung Eucalyptus sebagai antivirus korona. Produk tersebut disebut dapat membunuh virus influenza, beta, dan gamma corona.
 
Guru Besar Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. Suwijiyo Pramono, DEA., Apt., mengatakan, bahwa pada eucalyptus mengandung sejumlah zat aktif yang bermanfaat bagi tubuh. Dalam eucalyptus mengandung minyak atsiri yang di dalamnya terdapat senyawa 1,8 sineol yang bersifat antibakteri, antivirus, dan ekspektoran untuk mengencerkan dahak.
 
Pakar herbal UGM ini mengakui, pernah ada penelitian eucalyptus pada virus influenza dan virus korona. Hasilnya memang menunjukkan bahwa eucalyptus mampu membunuh virus flu dan korona.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun penelitian tersebut baru sebatas diuji di tahap in vitro (jenis pemeriksaan yang dilakukan di dalam tabung reaksi atau di luar tubuh makhluk hidup). “Virus corona Sars-CoV-2 ini kan baru, dalam uji Kementan kemarin menggunakan virus itu atau bukan? Misalpun sudah, kembali lagi kalau uji baru di tahap invitro, baru sebatas itu,” jelasnya dalam keterangannya, Senin, 6 Juli 2020.
 
Dengan penggunaan kalung eucalyptus ini, dikatakan Pramono, baru bisa membunuh virus yang berada di luar tubuh. Tidak dengan virus covid-19 yang sudah berada di dalam tubuh karena dengan kalung.
 
"Zat aktif eucalyptus yang terhirup relatif kecil. Walaupun bisa mematikan virus, tapi tidak signifikan,” papar tenaga ahli BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) ini.
 
Guna membuktikannya, maka harus dilakukan uji klinis. Selama ini eucalyptus digunakan secara topikal ataupun inhalasi. Bukan untuk digunakan per oral atau sebagai obat dalam. Pemakaian eucalyptus umumnya dioleskan atau dihirup seperti pada produk minyak kayu putih, balsem, roll on dan lainnya.
 
Baca juga:Antivirus Eucalyptus Peroleh Hak Paten
 
Menurutnya, eucalyptus belum bisa dianggap sebagai obat untuk antivirus korona. Masih diperlukan pembuktian dengan proses yang panjang, hingga pengujian klinis atau pada manusia.
 
Selain itu, harus mengantongi izin dari BPOM. “Kalau disebut sebagai obat antivirus covid-19 belum bisa. Apalagi kalau digunakan per oral untuk obat tidak direkomendasikan, karena jika dosis penggunaan tidak tepat akan berbahaya,” terangnya.
 
Dia menjelaskan, batas aman penggunaan eucalyptus per oral berkisar antara 0,3-0,6 milililter. Sementara penggunaan berlebih akan menyebabkan iritasi pada lambung dan meracuni susunan syaraf pusat yang dapat berakibat kematian.
 
Penggunaan eucalyptus dalam bentuk kalung untuk alat kesehatan menurutnya memang bisa saja berpotensi membantu proses penyembuhan pasien covid-19. Zat aktif pada eucalyptus dapat dihirup dan membantu melegakan pernapasan pada pasien yang mengalami gejala sesak napas.
 
Namun, sekali lagi jika dalam bentuk kalung harus diuji secara klinis. “Kalau bentuk sediaannya minyak akan cukup dosisnya untuk dihirup sehingga minimal bisa melegakan napas dan mengencerkan dahak. Dalam hal ini bisa membantu obat standar yang diberikan kepada pasien covid-19 dalam proses penyembuhan, bukan sebagai obat utama covid-19,”tuturnya.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif