Pemaparan mengenai bahaya pembakaran sampah secara terbuka. Foto: Dok Humas Unair.
Pemaparan mengenai bahaya pembakaran sampah secara terbuka. Foto: Dok Humas Unair.

Simak, Ini Bahaya Membakar Sampah Secara Terbuka

Pendidikan sampah jakarta penelitian Sampah Riset dan Penelitian UNAIR Sampah plastik
Arga sumantri • 18 Januari 2022 13:21
Surabaya: Menurut data Bank Dunia beberapa tahun terakhir produksi sampah dunia diproyeksikan meningkat secara signifikan dan mampu menyentuh angka 2.2 miliar ton pada 2025 nanti. Diperkirakan, hampir 41 persen sampah yang ada di dunia dibakar secara terbuka (open burning).
 
Pembakaran sampah secara terbuka merupakan proses pemusnahan limbah dengan cara dibakar yang biasanya pada suhu rendah dengan cara yang tidak terstandarisasi dan terkendali. Proses pembakaran yang tidak sempurna tersebut memiliki banyak dampak negatif bagi lingkungan dan manusia.
 
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universiti Putra Malaysia Juliana Jalaludin mengungkapkan open burning banyak dilakukan karena mudah dan murah. Namun, aktivitas ini menyimpan bahaya bagi lingkungan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pembakaran sampah secara terbuka dapat melepaskan berbagai polutan beracun ke udara karena melepaskan sejumlah besar gas rumah kaca ke atmosfer, selain itu juga dapat memperburuk pencemaran tanah dan pencemaran air," ujar Juliana dalam webinar internasional Universitas Airlangga (Unair) dikutip Selasa, 18 Januari 2022.
 
Baca: Pakar Unpad: Ada Berkah di Balik Bahaya Gunung Api
 
Ia menjelaskan senyawa yang dihasilkan termasuk karbon dioksida, metana, dan materi partikulat yang dapat menyebabkan kasus penyakit pernapasan yang parah. Senyawa hidrokarbon aromatik polisiklik, dioksin dan furan, yang semuanya karsinogenik dan menyebabkan berbagai penyakit juga turut dihasilkan oleh pembakaran tanpa melalui proses ineserasi tersebut.
 
"Kurang lebih ada 30 senyawa berbahaya yang persisten di lingkungan yang memungkinkan terserap oleh manusia dan menyebabkan kerusakan otak, hormon dan berbahaya bagi janin," paparnya. 
 
Juliana menjelaskan secara garis besar terdapat 4 jalur pemaparan dari toksikan yang ada di udara yakni melalui inhalasi, ingesti, bersentuhan dengan benda yang terpapar toksikan dan melalui jalur transplacental.
 
"Senyawa toksik hasil pembakaran akan diriliskan ke atmosfer yang kemudian bisa terhisap secara langsung ataupun masuk melalui makanan, dan yang paling berbahaya ada senyawa yang dapat mengkontaminasi janin melalui ibu hamil," ungkap dia.
 
Juliana menambahkan dalam upaya pengurangan sampah pendekatan 3R adalah metode yang paling tepat untuk digunakan. Sebab, mampu mengurangi sampah secara signifikan tanpa menimbulkan dampak negatif.
 
"Oleh karena itu meningkatkan kesadaran umum akan bahaya pembakaran sampah terbuka perlu dibangun agar masyarakat tahu dan sadar sehingga mampu secara bijak menggunakan benda yang berpotensi menjadi sampah," paparnya.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif