Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wikan Sakarinto. Foto: Zoom
Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wikan Sakarinto. Foto: Zoom

Kemendikbudristek-LPDP Luncurkan Program Riset Terapan untuk Dosen Vokasi

Pendidikan lpdp Pendidikan Tinggi Pendidikan Vokasi Hilirisasi Riset Perguruan Tinggi
Citra Larasati • 23 Juni 2021 15:45
Jakarta:  Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) akan memperkuat kegiatan riset di perguruan tinggi vokasi dengan meluncurkan program Riset Keilmuan Terapan Dalam Negeri untuk dosen di kampus vokasi.  Pemerintah menyediakan anggaran sebesar Rp25,5 miliar untuk mendukung program tersebut.
 
Program ini merupakan skema pendanaan riset terapan yang bersumber dari dana abadi pendidikan pada Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Wisnu Sunarso mengatakan, pihaknya akan terus menurus mendukung program penelitian vokasi.
 
"Kita akan menciptakan ekosistem riset dan inovasi yang ujung-ujungnya adalah untuk peningkatan daya saing.  Semangatnya kita harus bersama-sama meningkatkan kemampuan dan kompetensi dosen vokasi," kata Wisnu, saat Peluncuran program 'Riset Keilmuan Terapan Dalam Negeri-Dosen di Kampus Vokasi' yang digelar secara daring, Rabu, 23 juni 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Pendidikan Vokasi, Kemendikbudristek, Wikan Sakarinto mengatakan, bahwa program ini sangat berkaitan dengan program matching fund yang mempertemukan periset-periset di perguruan tinggi vokasi dengan industri di platform Kedaireka. "Lalu kita perkuat lagi dengan dukungan LPDP ini," terang Wikan.
 
Program ini merupakan sebuah platform pengembangan ekosistem riset terapan yang bebrbasis pada pemenuhan demand driven.  Dengan kata lain, semua kegiatan riset yang bakal didanai merupakan permintaan dari kebutuhan industri, pasar, atau masyarakat.  
 
"Filosofinya adalah riset yang start from the end," imbuh Wikan.
 
Baca juga:  10 SMK Pusat Keunggulan Akan Jalankan Program Pertanian ala Belanda
 
Sehingga nantinya, output yang dihasilkan adalah produk yang riil dibutuhkan masyarakat, juga produk yang menjawab persoalan industri.  "Kalau dari masyarakat maka outputnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat, kalau masuk indutsri harus jadi solusi yang mampu meningkatkan produktivitas industri. Sehingga industri dapat meningkat daya saingnya," terangnya.
 
Sedangkan jika berdasarkan kebutuhan pasar, maka outputnya adalah produk buatan dalam negeri yang dapat menjadi tuan rumah di negaranya sendiri atau produk yang dapat diekspor.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif