Seperti diketahui, Top 2% World Scientists merupakan daftar yang dikeluarkan oleh peneliti dari Stanford University dengan data penerbit ilmiah Elsevier.
17 peneliti UGM masuk World’s Top 2% Scientists 2026
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan
- Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D.;
- Prof. dr. Indah Kartika Murni, M.Kes., Sp.A(K)., Ph.D.; dan
- dr. Sumadi Lukman Anwar, M.Sc., Ph.D., Sp.B., Subsp.Onk. (K),
Fakultas Kehutanan
- Prof. Dr. Ir. Ragil Widyorini, S.T., M.T., IPU.
- Prof. Dr. Ahmad Maryudi, S.Hut., M.For.
- Dr. Yehezkiel Steven Kurniawan, S.Si., M.Eng.
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
- Prof. Dra. Wega Trisunaryanti, M.S., Ph.D. Eng.
- Prof. Dr.Eng. Edi Suharyadi, S.Si., M.Eng.
- Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si.
- Prof. Drs. Jumina, Ph.D.,
Fakultas Farmasi
- apt. Eka Noviana, Ph.D.
- Prof. Dr. apt. Abdul Rohman, S.F., M.Si.
Fakultas Teknik
- Muhammad Akhsin Muflikhun, S.T., MSME., Ph.D.
- Prof. Dr. Ir. Kusmono, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng.
Fakultas Kedokteran Gigi
- Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D.,
Fakultas Geografi
- Prof. Dr. Pramaditya Wicaksono, S.Si., M.Sc.
- Prof. Dr.rer.nat. Muh Aris
“Segenap capaian ini senantiasa akan menjadi inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di masa depan,” ungkapnya, Jumat, 16 Oktober 2026.
Dari 17 daftar peneliti UGM yang masuk daftar ilmuwan berpengaruh di dunia tersebut, umumnya mengembangkan penelitian dengan fokus yang beragam, mulai dari pemanfaatan material ramah lingkungan dan pemetaan ekosistem pesisir hingga peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak.
Biokomposit Ramah Lingkungan
Ragil Widyorini merupakan salah satu dari 17 peneliti UGM yang masuk dalam daftar telah lama mengembangkan penelitian di bidang teknologi hasil hutan, khususnya produk komposit ramah lingkungan dengan memanfaatkan serat alam, kayu berkualitas rendah, serta limbah pertanian dan kehutanan. Penelitiannya juga berfokus pada penggunaan bahan perekat alami yang bebas formaldehida untuk menghasilkan material alternatif yang berpotensi diaplikasikan dalam berbagai kebutuhan.Salah satu kontribusi ilmiahnya ialah pengembangan biokomposit dari limbah pertanian dan kehutanan, baik tanpa perekat (binderless board) maupun menggunakan bahan pengikat alami. Menurut Ragil, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan untuk memperluas penerapan teknologi komposit. “Riset mengenai komposit mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan dan diaplikasikan. Indonesia mempunyai banyak sumber daya alam, yang bisa membuka peluang riset komposit yang lebih luas, baik untuk aplikasi struktural maupun non-struktural,” jelasnya.
Pemanfaatan material alternatif tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk kehutanan. Salah satu contohnya ialah penelitian pemanfaatan limbah kotoran gajah menjadi produk komposit sebagai alternatif penanganan limbah. Ragil juga mengembangkan penelitian pemanfaatan kayu hasil penjarangan menjadi komposit laminasi untuk aplikasi struktural.
Dalam perjalanan risetnya, Ragil menghadapi tantangan berupa keterbatasan sumber daya, pendanaan, dan waktu, termasuk menjaga konsistensi dalam menghasilkan penelitian berkualitas. Untuk mengatasinya, ia membangun kolaborasi dengan akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat.
“Dalam menghadapi tantangan tersebut, saya berusaha terus membangun kolaborasi dengan berbagai pihak,meningkatkan kompetensi, serta terbuka terhadap pendekatan dan gagasan baru agar riset dapat semakin berdampak kepada masyarakat,” ungkapnya.
Kampus UGM. Foto: UGM
Pemetaan Ekosistem Pesisir
Sementara Pramaditya Wicaksono, peneliti dari fakultas Geografi ini lebih banyak menekuni bidang coastal biodiversity remote sensing atau penginderaan jauh biodiversitas pesisir, terutama untuk memetakan padang lamun, terumbu karang, dan habitat bentik. Penelitiannya berfokus pada evaluasi dan pengembangan metode serta model pemetaan yang dapat menghasilkan informasi mengenai kondisi ekosistem pesisir.Hasil penelitian ini menjadi referensi ilmiah bagi pengembangan berbagai metode pemetaan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Kontribusi tersebut turut mendukung pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil melalui penyediaan data yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah maupun organisasi nonpemerintah.
Salah satu contohnya ialah keterlibatan Pramaditya bersama Indonesian Seagrass Mapping Partnership, yang terdiri atas UGM, BRIN, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Universitas Hasanuddin, dalam menghasilkan peta nasional terumbu karang dan padang lamun Indonesia yang pertama kali diluncurkan oleh Menteri KKP pada 2025.
Peta tersebut menjadi dasar penghitungan luas padang lamun nasional sekaligus menyediakan data referensi untuk pengelolaan kawasan pesisir, ocean accounting, dan penghitungan karbon biru. Pengembangannya didukung oleh pendanaan David and Lucile Packard Foundation, dengan dukungan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada fase akhir.
Selain itu, bersama mitra nasional, Pramaditya turut mengembangkan profil karbon biru padang lamun untuk ASEAN beserta panduan pemetaan dan pengukurannya. Ia juga bekerja sama dengan Auriga Nusantara dalam mengembangkan peta nasional persentase tutupan padang lamun.
Di tingkat global, Pramaditya berperan sebagai global data harmonization science lead dalam inisiatif seagrass mapping blueprint, yang bertujuan mendukung pemetaan padang lamun secara global melalui harmonisasi data. Berbagai inisiatif tersebut memperlihatkan bagaimana pengembangan metode pemetaan dapat menghasilkan data yang dibutuhkan untuk memahami ekosistem pesisir dan mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaannya.
Dalam perjalanan penelitiannya, Pramaditya menghadapi keterbatasan anggaran, sementara penelitian di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil membutuhkan biaya besar. Ia mengatasi tantangan tersebut melalui kolaborasi dengan berbagai institusi, baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Tantangan terbesar awalnya adalah budget riset yang terbatas, sedangkan biaya untuk penelitian di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tinggi. Mengatasi dengan kolaborasi riset antar institusi, baik nasional maupun internasional,” paparnya.
Menurut Pramaditya, tantangan lainnya ialah perhatian terhadap ekosistem padang lamun yang sebelumnya belum sebesar perhatian terhadap ekosistem pesisir lainnya. Namun, meningkatnya perhatian terhadap karbon biru dan ekonomi biru turut membuka peluang pendanaan serta mendorong perkembangan penelitian padang lamun.
Deteksi Dini Penyakit Anak
Usaha peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak, mencegah penyakit, serta menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak menjadi lokus penelitian Indah Kartika Murni. Ruang lingkup risetnya mencakup pencegahan infeksi terkait pelayanan kesehatan, penggunaan antibiotik secara rasional, kardiologi anak, dan surveilans penyakit infeksi berbasis air limbah.Salah satu kontribusi pentingnya ialah penelitian mengenai keterlambatan diagnosis penyakit jantung bawaan. Dalam penelitian terhadap sekitar 850 anak, timnya menemukan bahwa sekitar 60 persen mengalami keterlambatan diagnosis. Pada kelompok dengan penyakit jantung bawaan berat atau kritis, proporsinya mencapai lebih dari 85 persen.
Temuan ini mendorong penelitian mengenai skrining menggunakan pulse oximeter, alat pengukur saturasi oksigen yang dapat membantu mendeteksi penyakit jantung bawaan kritis pada bayi baru lahir. Penelitian di empat rumah sakit di Yogyakarta melibatkan sekitar 1.450 bayi dan mengidentifikasi delapan bayi dengan penyakit jantung bawaan kritis melalui pemeriksaan lanjutan.
Hasil penelitian tersebut turut memperkuat bukti ilmiah bagi kebijakan nasional mengenai skrining pulse oximeter pada bayi baru lahir. Indah menjelaskan, penelitian kesehatan perlu menghasilkan bukti yang relevan dengan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia, termasuk intervensi yang dapat diterapkan dengan sumber daya terbatas.
“Salah satu kontribusi terpenting dari penelitian saya adalah yang tentu saja kami lakukan bersama tim, yaitu menghasilkan bukti ilmiah yang relevan dengan kondisi negara berkembang seperti Indonesia mengenai bagaimana intervensi yang berbasis bukti, yang relatif sederhana dan terjangkau, dapat meningkatkan keselamatan pasien dan juga kualitas pelayanan kesehatan,” jelas Indah.
Selain itu, Indah bersama tim multidisiplin mengembangkan surveilans berbasis air limbah untuk memantau sirkulasi patogen di masyarakat. Penelitian ini digunakan untuk mendeteksi SARS-CoV-2 selama pandemi dan dikembangkan untuk memantau Salmonella typhi, bakteri penyebab demam tifoid, serta patogen lain yang berpotensi menimbulkan pandemi.
Pendekatan ini dapat melengkapi data epidemiologi konvensional karena tidak semua orang yang terinfeksi datang ke fasilitas kesehatan. Meski demikian, Indah menilai tantangan utama penelitian kesehatan terletak pada penerapan hasilnya secara konsisten.
Keterbatasan fasilitas, pendanaan, beban kerja tenaga kesehatan, serta kebutuhan koordinasi antarfasilitas dapat memengaruhi keberhasilan implementasi.
“Salah satu tantangan terbesar adalah menjembatani kesenjangan antara bukti ilmiah dan implementasinya dalam pelayanan kesehatan sehari-hari. Kita mungkin mengetahui intervensi yang efektif, tetapi menerapkannya secara konsisten mungkin tidak mudah karena keterbatasan sumber daya, fasilitas, pendanaan, beban kerja, dan juga tantangan perubahan perilaku,” ungkapnya.
Untuk menghadapinya, Indah membangun kolaborasi dengan tenaga kesehatan, peneliti multidisiplin, institusi nasional dan internasional, serta pemangku kebijakan. Ia juga melibatkan mahasiswa, residen, dan peneliti muda dalam pengembangan penelitian.
Masuknya Ragil Widyorini, Pramaditya Wicaksono, dan Indah Kartika Murni dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2025 menunjukkan beragam kontribusi penelitian UGM dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian Ragil menawarkan alternatif pemanfaatan limbah menjadi material bernilai guna, Pramaditya menyediakan data untuk mendukung pengelolaan ekosistem pesisir, sedangkan Indah mengembangkan bukti ilmiah bagi peningkatan pelayanan kesehatan.