Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Unair Tunggu Arahan Pemerintah Soal Kelanjutan Riset Obat Covid-19

Pendidikan Virus Korona Riset dan Penelitian Calon obat Covid-19 Unair
Antara • 16 Oktober 2020 08:10
Surabaya: Universitas Airlangga (Unair) telah merampungkan laporan uji klinis kombinasi obat virus korona (covid-19) kepada Badan Intelijen Negara (BIN). Selanjutnya, Unair memfokuskan risetnya pada pengembangan obat tersebut.
 
Rektor Unair Mohammad Nasih mengatakan, obat baru yang dikembangkan adalah obat Unair 3. Obat tersebut merupakan hasil riset terbaik dari lima senyawa sintetis obat baru yang dikembangkan Unair.
 
"Untuk obat baru yaitu Unair 3 mempunyai efektivitas lebih tinggi dari senyawa lain yang kami teliti. Saat ini sedang persiapan pengajuan uji klinis ke manusia," ucap Nasih melansir Antara, Jumat, 15 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nasih mengatakan, laporan perkembangan uji klinis kombinasi obat yang diteliti Unair sudah diberikan pada BIN dan TNI AD. Selanjutnya, Unair masih menunggu arahan dari BIN untuk pengembangannya.
 
Menurut Nasih, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan pemerintah masih fokus terhadap riset vaksin covid-19. Dukungan pemerintah terhadap obat kombinasi yang diproses Unair disebut sudah berkurang.
 
"Yang pasti kami sangat bersyukur obat kombinasi ini masuk dalam rekomendasi ikatan dokter paru indonesia," ucap dia.
 
Baca:Unair Klaim Kombinasi Obat Covid-19 Efektif 98%
 
Nasih mengungkapkan riset kombinasi obat dilakukan dalam rangka jangka pendek untuk segera mengatasi covid-19. Dengan begitu, jika sudah masuk pada pengembangan vaksin, maka perlu dikaji lebih lanjut apakah perlu meneruskan riset kombinasi obat.
 
Nasih menekankan, proses riset kombinasi obat ini masih sangat panjang. Masalahnya, kata dia, apakah situasi ini masih relevan saat vaksin sudah ditemukan.
 
"Jadi apakah seimbang nanti pengorbanan kami dengan manfaatnya obat ini. Karena untuk membeli bahan obat juga tidak murah, pada sisi lain relevansinya juga agak berkurang waktunya," kata Nasih.
 
Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) ini mengungkapkan meskipun pengembangan kombinasi obat belum berlanjut, pihaknya sebagai perguruan tinggi memang sudah merasakan manfaatnya karena hasil risetnya sudah mendapat pengakuan.
 
"Inginnya kami lebih optimal, tetapi karena sumber daya manusia (SDM) terbatas maka kami tidak bisa 100 persen puas dengan hasil yang ada," tuturnya.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif