Kampus UNS.  Foto: UNS/Humas
Kampus UNS. Foto: UNS/Humas

Analisa Dokter Alumnus UNS Soal Penyebab Meningkatnya Kasus Covid-19

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian UNS
Citra Larasati • 22 Januari 2021 13:48
Jakarta:  Alumnus Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) 1988, dr. Pompini Agustina S,Sp.P, (K) menilai tren peningkatan kasus covid-19 dengan derajat sedang, berat, hingga kritis perlu dikaji. Menurut pengalamannya, hal ini terjadi salah satunya karena keterlambatan penanganan dan keterlambatan pasien mengenali gejala penyakit.
 
Di sisi lain, imbuhnya, pasien sudah mengenali gejala, tapi kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan karena sistem rujukan yang bermasalah.  “Contoh, mendaftarkan diri ke berbagai rumah sakit untuk mendapat rujukan. Jadi tercatat di beberapa rumah sakit. Akibatnya antrean rumah sakit semakin banyak,” ujar Pompini, dokter di RSPI Prof. Dr. Soelianti Sarosa Jakarta dalam Wedangan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dikutip dari siaran pers, Jumat, 22 Januari 2021.
 
Menyikapi hal tersebut, Pompini menyebutkan tahapan case management yang diterapkan yaitu deteksi dini, penentuan derajat penyakit, lalu penanganan sesuai derajat. Satu hal utama yang ditekankan olehnya adalah deteksi secara dini agar dapat segera dilakukan penentuan derajat penyakit berikut penanganannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Sebab, ketika lemah dalam melakukan deteksi dini, maka lemah pula dalam menentukan derajat penyakit. Akibatnya banyak kasus yang datang terlambat dan sudah mencapai derajat penyakit berat saat sampai di layanan kesehatan,” imbuh Pompini.
 
Baca juga:  Pakar UGM Ungkap Dua Alasan Pentingnya Vaksinasi Covid-19
 
Berbicara perihal derajat penyakit, Pompini menyampaikan, kasus covid-19 derajat ringan dengan penyakit penyerta harus hati-hati untuk dievaluasi. Meski derajat penyakit ringan tapi penyakit penyerta tidak terkontrol (seperti diabetes mellitus, jantung, hipertensi, paru kronis), maka dapat meningkat menjadi penyakit berat.
 
Pompini menambahkan, untuk derajat sedang harus ada monitoring cepat dan mendapat layanan di fasilitas kesehatan primer. Ia pun sangat berharap masyarakat peduli dengan kondisi sedang ini dan jangan sekali-kali menunggu.
 
Minimal saat ada batuk dan demam segera periksakan. Sehingga dapat dievaluasi, apakah memerlukan rawat inap, bantuan oksigen, obat antivirus, atau pengobatan yang sifatnya suportif.
 
Begitu juga dengan kasus berat yang tidak menutup kemungkinan masuk kondisi kritis. Pada derajat ini, Pompini menekankan jangan sampai terlambat dalam tata laksana terapi oksigen agar tidak sampai kritis.
 
“Di sisi lain, kondisi berat kritis harus masuk ke bantuan napas mekanik. Di mana pasien tersebut kemungkinan mendapatkan infeksi tambahan, seperti di kandung kemih karena tambahan alat bantu. Hal inilah yang membuat penanganan di ICU menjadi berat. Maka (pada kondisi ini) kita tidak hanya berpikir tentang covid-19 saja,” jelasnya.
 
Sementara itu, dr. Arifin, Sp.PD KIC, FINASIM. dari RSUD Dr. Moewardi Surakarta menyampaikan pengalaman di Intensive Care Unit (ICU). Jumlah pasien yang terus meningkat, namun ketersediaan tempat yang tidak sepadan membuat pasien derajat berat dan kritis tidak selalu dapat dirawat di ICU.
 
“Pasien derajat berat dan kritis bisa dirawat di ICU jika cukup, ketika tidak maka terpaksa dirawat di ruang perawatan biasa seperti IGD,” terang Alumnus FK UNS 1992 ini.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif