Labu susu citra laga inovasi mahasiswa UGM. Dok Humas UGM
Labu susu citra laga inovasi mahasiswa UGM. Dok Humas UGM

Mengenal Labu Susu Citra LaGa, Inovasi Peneliti UGM

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian UGM
Arga sumantri • 07 Januari 2021 10:53
Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan varietas labu susu Citra Labu Gama (Citra LaGa) yang memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan labu susu varietas lain. Labu susu ini juga potensial dibudidayakan di lahan marginal maupun lahan kritis karst.
 
"Labu susu Citra LaGa ini pertumbuhannya cepat sekitar 75 sampai 85 hari dan mengandung beta karoten yang tinggi sangat baik untuk kesehatan mata dan tubuh," ungkap peneliti labu susu Citra Gama, Budi S Daryono, mengutip siaran pers UGM, Kamis, 7 Januari 2021.
 
Labu susu Gama Citra merupakan labu susu varietas baru hasil inovasi Budi Daryono bersama peneliti Fakultas Biologi UGM lainnya, yakni Purnomo. Labu ini telah dikembangkan sejak 2017 dan telah dibudidayakan oleh kelompok tani binaan di Prambanan, Sleman, Yogyakarta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Budi menjelaskan, labu susu Citra LaGa berasal dari persilangan antara labu susu dari Belanda dan labu susu dari Jepang atau yang dikenal dengan nama Kabocha. Berikutnya, dilakukan seleksi hingga menghasilkan galur kultivar Citra Labu Gama.
 
Labu varietas ini memiliki masa panen yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan labu biasa. Masa panen berkisar antara 75-85 hari setelah tanam. Dalam satu pohon labu, dapat menghasilkan dua hingga enam buah labu dengan berat rata-rata satu sampai tiga kilogram per buah. Buah berwarna kuning, kuning kecoklatan, oranye ini dapat bertahan hingga 6-12 bulan.
 
Labu Citra LaGa juga memiliki keunikan karena dikembangkan dalam tiga macam bentuk, yaitu bentuk gitar, bentuk barbel/paprika, serta bentuk leher angsa/ular. Budi menyebut, untuk labu dengan bentuk gitar umumnya lebih disukai konsumen kelas atas dan menengah. Berikutnya, bentuk barbel/paprika lebih digemari kalangan menengah-atas. Bentuk ular banyak disukai masyarakat kelas menengah ke bawah.
 
"Kami kembangkan tiga bentuk agar konsumen punya pilihan, sebab selama ini bentuk banyak ditentukan oleh para tengkulak," terang Dekan Fakultas Biologi UGM ini.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif