Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Menanti Uji Plasma Darah, Alternatif Pengobatan Pasien Covid-19

Pendidikan Virus Korona Riset dan Penelitian
Siti Yona Hukmana • 19 Mei 2020 10:09
Jakarta : Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menguji klinik plasma darah pasien sembuh virus korona (covid-19) di 10 rumah sakit yang tersebar di Indonesia. Terapi dengan plasma konvalesen ini diharapkan bisa menjadi penangkal korona.
 
"Di Wuhan tempat pertama meledak pandemi covid-19 telah menggunakan terapi plasma konvalesen dan hasilnya menunjukkan perbaikan yang bermakna," kata Ketua Konsorsium Covid-19 Kemenristek/BRIN, Ali Ghufron Mukti, kepada Medcom.id, Senin, 18 Mei 2020.
 
Terapi itu, kata Ali, juga sudah diterapkan di India, Kerala, dan Korea Selatan. Kemudian Rumah Sakit Johns Hopkins, Baltimore, Maryland (USA), RS Houston New York, Amerika Serikat pada akhir Maret.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Akhirnya, Food and Drug Administration (FDA) memberikan izin dalam expanded access program". Pemberian terutama untuk kasus covid-19 yang berat atau kritis," ujar Ali.

Tentang Plasma Darah

Plasma darah adalah komponen darah berbentuk cair berwarna kuning yang menjadi medium sel-sel darah. Komponen non-cair berupa sel-sel, baik sel darah merah atau sel darah putih.
 
Lebih kurang 55 persen dari volume atau jumlah darah merupakan plasma darah. Volume plasma darah terdiri dari 90 persen berupa air, 10 persen berupa larutan protein, glukosa, faktor koagulasi, ion mineral, hormon dan karbon dioksida.
 
Plasma darah juga merupakan medium pada proses ekskresi. Plasma darah sering disalahartikan dengan serum. Serum adalah plasma darah yang tidak mengandung faktor koagulasi atau penjedalan darah.

Efektivitas dan Keamanan

Kai Duan, Bende Liu, Cesheng Li dalam penelitiannya yang dimuat dalam Prosiding "The National Academi of Sciences of the United States of America" tahun 2020 menyebutkan 10 pasien covid-19 yang berat dan telah dikonfirmasi dengan uji real-time viral RNA yang diikuti secara prospektif. Mereka diterapi dengan satu dosis 200 mililiter plasma konvalesen.
 
"Plasma konvalesen diambil dari donor pasien covid-19 yang telah sembuh dengan titer antibodi yang dinetralkan di atas 1:640," sebut Ali.
 
Kemudian, plasma tersebut ditransfusikan ke pasien selain mendapatkan obat antiviral. Hasilnya, kata Ali, terlihat bahwa transfusi plasma tersebut aman.
 
Perbaikan gejala klinis secara bermakna tampak pada hari ke tiga setelah pemberian transfusi plasma. Terjadi juga perbaikan terkait parameter laboratorium. Tujuh dari sepuluh pasien yang terdeteksi virus dalam darah (viremia) tidak terdeteksi lagi setelah pemberian plasma tersebut.
 
"Meski begitu peneliti menyampaikan bahwa untuk dosis yang optimal dan waktu pemberian serta manfaat klinis yang lebih optimal memerlukan uji klinik yang besar dan terkendali," imbuh Ali.
 
Namun, lanjut Ali, pemberian plasma konvalesen pada pasien covid-19 yang sakit berat harus dilakukan dengan hati hati. Sebab, penelitian itu bukan dilakukan dengan menggunakan rancangan penelitian randomised control trial.
 
Randomised control trial merupakan rancangan penelitian yang dilakukan secara acak atau random pada pasien yang mendapat perlakuan pemberian plasma konvalesen. Positifnya, penelitian tersebut menggunakan kelompok kontrol.
 
"Dengan demikian rancangan penelitian randomised control trial adalah penelitian dengan kualitas yang sangat baik," bebernya.
 
Menurut Ali, plasma konvalesen yang diberikan kepada pasien tidak boleh sembarangan. Plasma harus memiliki golongan darah sistem ABO yang sama antara donor dan pasien resipien.
 
"Plasma konvalesen telah diskrining dan bebas infeksi HIV, hepatitis ataupun sipilis. Pasien yang diterapi dengan plasma konvalesen harus sudah terbukti secara laboratorium benar-benar positif covid-19," katanya.
 
Pasien covid-19 adalah derajat berat seperti sesak napas, frekuensi napas lebih dari 30 kali per menit atau infiltrat paru lebih dari 50 persen dalam 24 jam sampai 48 jam. Plasma konvalesen dapat pula diberikan pada pasien covid-19 yang kritis seperti mengalami gagal napas, syok, disfungsi atau gagal organ yang multipel.
 
Ali meyebut terapi plasma konvalesen di Indonesia baru dilakukan tiga minggu yang lalu. Konsorsium Penelitian dan Inovasi terkait covid-19 Ristek/BRIN akan melakukan uji klinik plasma konvalesen di 10 rumah sakit yang tersebar di Indonesia.
 
Baca:Menristek: Riset Terapi Alternatif Penyembuhan Covid-19 Diperlukan
 
Rinciannya, RSUD Dr Soetomo, Surabaya; RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta; RS Sjaiful Anwar, Malang; RSUD Dr Moewardi, Solo. Kemudian, RS UNAIR, Surabaya; RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro, Klaten; RS Sulianti Saroso, Jakarta Utara; RS Dr Kariadi, Semarang; RS Dr M Djamil, Padang; RS Dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Sementara, Rumah Sakit Umum Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta Pusat telah lebih dulu menggunakan metode tersebut.
 
Dalam penelitian ini, Konsorsium Penelitian dan Inovasi terkait covid-19 Ristek/BRIN juga merangkul Laboratorium Bio Molekuler Eijkman, LIPI, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Kesehatan serta institusi lain seperti Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
 
"Harapannya, terapi baru dengan plasma konvalesen ini dapat menyembuhkan pasien covid-19 terutama yang derajat berat dan bahkan telah kritis," ujar Ali.
 
Namun, permasalahannya terdapat pada pendonor. Pasien covid-19 yang sembuh harus bersedia dan ikhlas menjadi pendonor. Ketersediaan donor ini penting untuk dapat menolong nyawa para Pasien dalam Pengawasan (PDP) terutama yang telah berat dan atau kritis.
 
"Pada saat yang sama konsorsium berharap segera ditemukan baik strategi pencegahan, vaksin, pemutusan rantai penularan, obat dan terapi lain yang jitu," ujar dia.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif