Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Lima Masukan Akademisi Terkait Rencana Vaksinasi

Pendidikan Virus Korona Riset dan Penelitian vaksin covid-19
Arga sumantri • 24 Oktober 2020 08:07
Jakarta: World Health Organization (WHO) mencatat belum ada vaksin virus korona (covid-19) yang lolos uji klinis hingga tahap akhir. Namun, beberapa negara mulai melakukan distribusi vaksin, termasuk Indonesia.
 
Sejumlah akademisi angkat bicara terkait rencana masuknya tiga calon vaksin covid-19 ke Indonesia, yakni Sinovac, Sinophram, dan CanSino. Polemik terjadi setelah munculnya keraguan masyarakat terhadap tiga calon vaksin yang disebut belum lolos uji klinis tersebut.
 
Rencananya, ketiga calon vaksin covid-19 bakal masuk November. Proses vaksinasi dijadwalkan Desember 2020 dengan target penerima sebanyak 9,1 juta orang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Medcom.id merangkum lima masukan akademisi terkait rencana vaksinasi covid-19.

1. Vaksin Harus Aman dan Tidak Merugikan

Pakar Mikrobiologi Institut Pertanian Bogor (IPB), Sri Budiarti meminta pemerintah memerhatikan syarat keamanan dari calon vaksin covid-19 yang akan diberikan kepada masyarakat akhir tahun ini. Sebagai akademisi dan masyarakat biasa, Sri mempercayakan kompetensi dan integritas tim yang dimiliki pemerintah untuk menangani covid-19 di Tanah Air.
 
"Vaksin agar bisa digunakan itu salah satunya harus bersifat aman. Kalau sudah dijamin aman, berikutnya adalah efektivitas. Efektif dan tidaknya tergantung kondisi penerima, tapi nomor satu atau yang utama adalah syarat keamanan, tidak merugikan bagi penggunanya," tegas Sri kepada Medcom.id, Jumat, 23 Oktober 2020.
 
Baca berita selengkapnya di sini

2. Tak Perlu Semua Populasi Dapat Vaksinasi

Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Laura Navika Yamani menerangkan, prinsip vaksinasi adalah membentuk herd imunnity atau kekebalan populasi. Artinya, vaksinasi tak perlu dilakukan terhadap semua populasi penduduk.
 
"Jangan berpikir bahwa setiap orang harus mendapatkan vaksin. Sekitar 70 persen aja orang terimunisasi tervaksinasi itu sudah memberikan kekebalan populasi. Artinya infeksi dari virus ini bisa hilang, kalau 260 juta masyarakat kita, ya 70 persen ya, 170 juta divaksinasi," kata Laura kepada Medcom.id, Jumat, 23 Oktober 2020.
 
Baca berita selengkapnya di sini

3. Program Vaksinasi Diminta Tetap Sesuai Jadwal

Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko meminta pemerintah Indonesia terus mengembangkan uji klinis vaksin covid-19 sesuai timeline yang telah dibuat. Jangan sampai ada faktor lain yang menghambat.
 
Sejauh ini, uji klinis ketiga kandidat vaksin tahap tiga yang sedang dilakukan di Bandung tidak ada indikasi yang menghambat. PT Bio Farma optimistis jika proses pembuatan vaksin dapat berjalan lancar sesuai jadwal.
 
Baca berita selengkapnya di sini

4. Vaksinasi Diminta Bertahap dan Tak Terburu-buru

Pakar epidemiolog Universitas Airlangga (Unair), Laura Navika Yamani meminta pemerintah agar tidak terburu-buru melakukan vaksinasi secara luas. Target vaksinasi kepada 9,1 juta orang untuk tahap awal harus dilakukan secara ketat.
 
Selain itu, pemberiannya juga harus sesuai kriteria dengan uji coba yang telah dilakukan. Sebelumnya Indonesia telah melakukan uji klinis kepada 1.600 relawan, dengan kriteria usia 15-59 tahun.
 
Baca berita selengkapnya di sini

5. Vaksin Covid-19 Harus Teruji Keamanannya

Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Tri Wibawa mengatakan, suatu vaksin dapat diberikan atau diaplikasikan ke masyarakat jika keseluruhan proses uji klinis telah dijalankan.
 
Menurut Tri Wibawa, vaksin dapat digunakan, termasuk untuk mengatasi covid-19 jika telah memenuhi sejumlah persyaratan. Salah satunya, sudah teruji keamanannya serta tidak menimbulkan efek samping yang berarti.
 
Baca berita selengkapnya di sini
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif