Menristek/BRIN, Bambang Brodjonegoro.
Menristek/BRIN, Bambang Brodjonegoro.

Menristek: Kita Harus Siap Hidup Tanpa Vaksin Korona

Pendidikan Virus Korona Riset dan Penelitian
Ilham Pratama Putra • 22 Mei 2020 13:52
Jakarta: Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) terus mengupayakan pengembangan vaksin virus korona. Namun di saat yang bersamaan, masyarakat diminta tetap bersiap jika vaksin covid-19 tersebut tidak juga bisa ditemukan.
 
"Mau tidak mau kita bisa hidup dengan keberadaan penyakit itu," kata Menristek/BRIN, Bambang Brodjonegoro, dalam Selamat Pagi Indonesia bertema 'Kebangkitan Inovasi' di MetroTV, Jumat 22 Mei 2020.
 
Bambang menambahkan, jika melihat perkembangan di seluruh dunia, para peneliti juga belum mampu memastikan keberadaan vaksin korona. Kalaupun ada, tentu pendistribusiannya akan memakan waktu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Vaksin ini belum tentu akan bisa didatangkan segera dan benar-benar ada. Ini menjadi pekerjaan besar untuk peneliti seluruh dunia. Karena dari banyak penyakit menular, tidak semua memiliki vaksin hingga hari ini," jelas Bambang.
 
Baca juga:Ilmuwan Indonesia dan Inggris Bersatu Melawan Covid-19
 
Namun, Bambang tetap memberikan harapan jika vaksin tidak ditemukan dan masyarkat benar-benar harus berdampingan dengan korona. Setidaknya akan ada obat yang bisa digunakan masyarakat ketika diserang virus.
 
"Paling tidak, ada obatnya. Kalaupun vaksin belum ditemukan, pada saat yang sama kita melakukan penelitian tentang obat yang kira-kira cocok untuk covid-19 ini," terangnya.
 
Untuk peracikan vaksin dan obat sendiri, Kemenristek telah menggandeng beberapa pemangku kepentingan. Di antaranya Eijkman, Geofarma, Kementerian BUMN, hingga Kementrian Kesehatan untuk uji klinis.
 
Dalam hal penanganan, pihaknya terus mendorong produksi alat kesehatan dalam negeri. Dalam 2,5 bulan terakhir pengembangan alat kesehatan secara mandiri dilakukan secara masif.
 
"Untuk PCR kita sudah bisa produksi mandiri 500 sampi 100 ribu unit per bulan. Alat rapid test juga akan jadi kebutuhan, kita sudah mampu produksi besar dan massal sebanyak 500 sampai 100 ribu per bulan," jelas Bambang.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif