Jamur endofit pada tanaman mangrove. Foto: Humas UGM.
Jamur endofit pada tanaman mangrove. Foto: Humas UGM.

Mahasiswa UGM Teliti Potensi Jamur Endofit pada Tanaman Mangrove Sebagai Antivirus Covid-19

Pendidikan Virus Korona Riset dan Penelitian Perguruan Tinggi UGM
Arga sumantri • 22 September 2021 11:11
Yogyakarta: Empat mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan antivirus SARS-CoV-2 menggunakan jamur endofit dari mangrove Avicennia marina. Keempat mahasiswa itu ialah Rahmahwati Amaliah, Kartika Puspita Dewi, I. Sabila Elvani (Biologi 2018), dan Riyas Nur Rohimi (Farmasi 2018), dengan dosen pendamping Lisna Hidayati.
 
Penelitian ini berangkat dari permasalahan pandemi covid-19 yang disebabkan SARS-CoV-2 saat ini masih menjadi ancaman bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Menurut Rahmawati, virus dapat menginfeksi dan menimbulkan gejala dengan tingkat keparahan yang berbeda pada tiap orang.
 
"Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Ejaz et al., (2020) dan Sanyaolu et al., (2020) menunjukkan bahwa pada penderita covid-19 dengan usia lebih dari 60 tahun dengan penyakit penyerta (komorbid) lebih berisiko terkena infeksi, terutama komorbid hipertensi," papar Rahmawati, mengutip siaran pers UGM, Rabu, 22 September 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Fakta Menarik Kopi, Mampu Tingkatkan Imunitas untuk Cegah Covid-19
 
Ia mengungkapkan bahwa Avicennia marina memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai antivirus SARS-CoV-2 karena mampu memproduksi senyawa metabolit yang memiliki bioaktivitas meliputi antivirus, antiinflamasi, antioksidan, dan antihipertensi. Namun di sisi lain, mangrove A. marina merupakan tanaman konservasi sehingga penggunaannya perlu dibatasi guna mempertahankan keseimbangan ekosistem.
 
Permasalahan tersebut mendorong Rahmawati untuk menggali kembali alternatif lain sebagai pengganti tanaman mangrove tersebut, yakni pemanfaatan jamur endofit dalam jaringan tanaman mangrove A. marina.
 
Rahmawati menjelaskan, jamur endofit merupakan mikroorganisme simbion dalam jaringan mangrove yang mampu memproduksi metabolit sama dengan inangnya. Oleh karena itu, dapat digunakan sebagai alternatif penggunaan tanaman mangrove untuk tujuan konservasi. 
 
"Jamur endofit juga memiliki siklus hidup yang pendek, sehingga mampu memproduksi metabolit dalam waktu singkat, jika dibandingkan dengan tanaman mangrove yang memiliki siklus hidup relatif panjang," ujarnya.
 
Baca: Mahasiswa UNS Buat Sabun Kertas dari Bahan Alami
 
Rahmawati menambahkan penelitian ini dilakukan melalui beberapa proses, meliputi pengkulturan isolat jamur endofit hingga analisis uji in silico terhadap tiga protein target, yaitu Angiotensin Converting Enzyme-2 (ACE2), Main Protease SARS-CoV-2 (Mpro), dan Angiotensin II Type I Receptor (AT(1)R) untuk mengetahui potensi aktivitas senyawa yang dihasilkan oleh tanaman mangrove dan jamur endofit sebagai antivirus covid-19 pada populasi hipertensi.
 
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diketahui bahwa senyawa Beta-sitosterol dan Lupeol dari mangrove A. marina, serta senyawa epicatechin yang dihasilkan oleh jamur endofit mangrove A. marina memiliki aktivitas penghambatan yang baik pada ketiga protein target. 
 
"Dan menunjukkan hasil baik dalam prediksi ADMETnya, sehingga berpotensi untuk dikembangkan dalam penelitian lanjutan terkait penemuan antivirus SARS-CoV-2 bagi penderita berkomorbid hipertensi," paparnya.
 
Rahmahwati berharap penelitian ini tidak hanya dapat berkontribusi memperkaya literasi untuk membantu pemerintah dalam memerangi pandemi covid-19 yang masih berkepanjangan, namun juga mendukung pelestarian tanaman mangrove yang statusnya merupakan tanaman konservasi.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif