Ventilator portabel dengan kantong udara hasil pengembangan ITB. Dokumentasi. Mitra ITB, PT Betaa
Ventilator portabel dengan kantong udara hasil pengembangan ITB. Dokumentasi. Mitra ITB, PT Betaa

Ventilator Buatan ITB Lolos Uji Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan

Pendidikan Virus Korona Riset dan Penelitian
Antara • 19 Mei 2020 19:34
Bandung: Ventilator hasil pengembangan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB), lolos uji fungsi dan ketahanan dari Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan pada 11 Mei 2020. Alat bantu pernapasan berbasis kantong udara itu selanjutnya akan diuji secara klinis.
 
Dosen FTMD ITB, Christian Reyner, menjelaskan fungsi utama ventilator airgencyini ialah menggantikan alat yang sebelumnya dioperasikan manual. Keunggulan alat ini memiliki sistem yang sederhana, dapat dioperasikan dengan mudah, dan biaya produksinya juga rendah.
 
"Harapan kami setelah lolos uji klinis, sudah mendapat izin edar, kita bisa segera memproduksi alat ini dan mengedarkannya ke rumah sakit," kata Reyner melansir Antara, Selasa, 19 Mei 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Reyner mengatakan alat tersebut memiliki parameter untuk mengatur seberapa besar oksigen yang masuk ke dalam paru-paru pasien. Ia menjelaskan, setiap orang memiliki pola pernapasan dan kebutuhan oksigen yang berbeda, sehingga dengan ventilator airgency, dokter bisa mengatur sesuai kondisi pasien.
 
Pengaturan lainnya adalah inspiratory dan respiratory, yaitu rasio antara jumlah oksigen yang diterima dan dikeluarkan. "Misalnya 1 : 2 atau 1: 3. Semua itu bisa diatur oleh dokter yang menangani pasien," ujarnya.
 
Fungsi selanjutnya adalah pengaturan bidang volume. Menurut Reyner, setiap pasien memiliki bidang volume udara yang berbeda. Misalnya,300 ml, 400 ml, 500 ml, maka alat tersebut juga dapat disesuaikan dengan bidang volume pasien (kapasitas menerima oksigen).
 
Baca:ITB Kembangkan Ventilator Portabel Berbasis Kantong Udara
 
Fitur lainnya yang tak kalah penting dalam alat tersebut adalah warning system yang akan mendeteksi adanya kegagalan fungsi alat dengan ditandai suara 'beep”. Misalnya, saat dioperasikan ada selang pernapasan yang terlepas, maka alat akan berbunyi sebanyak empat kali 'beep'.
 
"Kemudian, ada pendeteksi kebocoran halus, warning dalam kondisi low, high, over pressure yang berkaitan dengan kapasitas paru-paru dan tidal volume yang diberikan oleh dokter," tambahnya.
 
Ventilator airgency ini juga dilengkapi sistem perpindahan sumber tenaga listrik otomatis dari AC ke baterai. Hal itu untuk mengantisipasi jika terjadi mati listrik, maka sumber listrik akan pindah menggunakan baterai dan alat tetap berfungsi tanpa terhenti.
 
"Sistem kita bisa bertahan dengan baterai selama tiga hingga empat jam," ujarnya.
 
Alat itu juga memiliki fitur lain yaitu bottle peep atau dikenal juga sebagai peep and exspiratory pressure. Fungsinya, untuk memastikan tekanan akhir paru-paru tidak boleh nol atau paru-paru pasien terlalu mengempis.

Persiapan Uji Klinis

Reza Widianto Sudjud, dari Fakultas Kedokteran Unpad menerangkan uji klinis alat ini sudah disampaikan kepada Komite Medik di Kementerian Kesehatan. "Saat ini kita masih menunggu keputusan mengenai kelayakan uji klinis alat atau tidak untuk alat tersebut," kata Reza.
 
Reza mengatakan ventilator airgency tidak akan diuji coba langsung ke pasien, sebab butuh izin dari keluarga. Sementara, alat ini diperuntukkan bagi pasien yang berhenti napas atau kondisi kritis.
 
"Rasanya tidak mungkin jika dilakukan pada pasien langsung. Oleh karena itu kita akan membandingkan ventilator airgency dengan ventilator yang dipompa oleh tangan manusia secara manual. Dan yang akan dinilai adalah volume, tekanannya dan lain-lain," ujar Reza.
 
Saat uji klinis, alat Ventilator Airgency yang dibutuhkan adalah alat yang sudah dilakukan tes fungsi. Namun, tidak hanya satu alat, tapi akan diuji dari beberapa alat yang sama sehingga bisa dipastikan bahwa ventilator ini bisa diperbanyak dan digunakan. Tempat uji klinis rencananya akan dilakukan di Laboratorium FK Unpad.
 
"Harapan saya, jangan hanya saat pandemi covid-19, kita harus maju terus dalam produksi alat yang buatan kita sebagaimana yang diharapkan pemerintah," ungkap Reza.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif