Ilustrasi. Dok Media Indonesia.
Ilustrasi. Dok Media Indonesia.

UNS: Menyikapi Stunting Perlu Perhatikan Karakteristik Daerah

Pendidikan stunting Pendidikan Tinggi UNS
Antara • 10 November 2020 20:52
Solo: Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menilai pemerintah perlu memperhatikan karakteristik daerah untuk menyikapi stunting. Pemerintah juga perlu memberikan perhatian lebih pada daerah dengan prevalensi tinggi.
 
"Anak-anak yang tinggal di daerah pedesaan memiliki risiko stunting lebih tinggi karena kurangnya akses ke perawatan kesehatan," kata peneliti UNS Tri Mulyaningsih, yang tergabung dalam riset kolaborasi internasional bertajuk 'Multilevel Determinants of Childhood Stunting' di Solo, Selasa, 10 November 2020.
 
Ia mengatakan prevalensi stunting anak tidak sama antarprovinsi. Misalnya, risiko stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT) lebih tinggi dibandingkan Pulau Jawa. Menurut dia, hal itu tidak lepas dari bagaimana akses terhadap kebutuhan air bersih di suatu daerah yang sangat berpengaruh pada kondisi anak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Terkait hal itu, menurut dia, diperlukan kebijakan yang lebih baik dan spesifik. Selain itu, mengarah langsung kepada intervensi kebijakan dan harus sensitif seperti memperhatikan masalah akses air bersih.
 
"Sebetulnya kebijakan-kebijakan pemerintah di Indonesia berkaitan dengan stunting sudah banyak, komprehensif, dan menjangkau berbagai sektor. Namun, implementasi dari kebijakan tersebut masih terbatas, belum maksimal, dan belum efektif," ujarnya.
 
Baca: UI Buat Peta Mobilitas Warga dan Persebaran Covid-19
 
Menurut dia, angka stunting memang menunjukkan penurunan, tetapi berjalan lambat. Bahkan, kata dia, untuk turun 1 persen saja membutuhkan waktu yang lama, sehingga diperlukan implementasi kebijakan yang lebih maksimal dan efektif.
 
Ia menyatakan, riset tersebut berbicara perihal malnutrisi anak dan berfokus pada masalah stunting yang merupakan masalah malnutrisi anak paling berat di Indonesia. Kondisi ini tidak lepas dari dampak stunting bagi pertumbuhan anak dan sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa mendatang. 
 
"Anak yang mengalami stunting, kemampuan kognitif dan intelektualitasnya kurang berkembang," ujarnya.
 
Dampak lainnya, kata dia, produktivitas kerja berkurang. Selain itu, menurut dia, anak yang mengalami stunting berisiko penyakit lebih tinggi dibandingkan anak lain, khususnya penyakit tidak menular seperti diabetes, kolesterol, dan jantung.
 
Selain Tri Mulyaningsih dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), dua dosen lain yang juga tergabung dalam kelompok riset tersebut yaitu Vincent Hadiwiyono dari FEB dan Vitri Widyaningsih dari Fakultas Kedokteran (FK).
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif