Foto: Dok. BNPB
Foto: Dok. BNPB

Riset Mitigasi Bencana Berbasis Teknologi Bakal Digenjot

Pendidikan tsunami Riset dan Penelitian
Citra Larasati • 30 September 2020 21:52
Jakarta: Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro mengimbau agar masyarakat tidak panik berlebihan dalam menyikapi hasil riset tentang gempa megathrust dan potensi tsunami. Ke depan, pemerintah akan menggenjot riset dan inovasi berbasis teknologi untuk memitigasi bencana.
 
Bambang menegaskan, dari segi kelimuan hingga saat ini belum ada metode dan teori yang dapat memprediksi kapan dan di mana gempa akan terjadi. "Riset Profesor Sri Widyantoro lebih kepada antisipatif terhadap kemungkinan bencana tersebut.Bagaimana memitigasi bencana dengan kesiapsiagaan," kata Bambang dalam Video Conference Keterangan Publik: Risiko Tsunami di Selatan Jawa, Rabu, 30 September 2020.
 
Hasil riset kebencanaan tersebut semata-mata untuk memberikan pengetahuan yang lengkap, agar masyarakat tidak abai terhadap potensi bencana. "Kombinasi pengetahuan dan kesadaran ini akan jadi senjata kita untuk berhadapan dengan bencana," ungkapnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ke depan, kesiapsiagaan bencana akan terus dikembangkan, agar tidak lagi hanya upaya melakukantsunami early systemdalam bentuk buoy maupun kabel laut. Selama ini keduanya menjadi salah satu cara untuk memberi peringatan dini terjadinya gempa dan kemungkinan terjadinya tsunami di Indonesia.
 
Baca juga:Peneliti ITB Beberkan Hasil Risetnya Tentang Potensi Tsunami 20 Meter
 
Bambang akan menggenjot lagi riset-riset dan inovasi mitigasi bencana yang lebih mengedepankan teknologi, termasuk teknologi evakuasi. "Karena di Indonesia ini begitu luas dan penduduknya banyak, sehingga tidak bisa dilakukan secara manual," terangnya.
 
Ia juga berharap ke depan penanganan mitigasi bencana dapat meniru Jepang yang sudah memiliki protokol yang jelas. "Kita dorong penelitian kebencanaan baik itu di LIPI maupun di Kampus mengembangkan pendekatan teknologi untuk mitigasi," tegasnya.
 
Sebelumnya,Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) Sri Widiyantoro menjelaskan, perihal risetnya tentang potensi gempa berkekuatan besar di selatan Pulau Jawa. Ia menjelaskan, riset yang menjadi perbincangan publik itu merupakan hasil penelitian tahun lalu.
 
"Sebenarnya itu riset multidisplin yang dibiayai ITB tahun kemarin," kata Sri Widiyantoro kepada Medcom.id, Sabtu, 26 September 2020.
 
Ia menjelaskan riset itu melibatkan peneliti multidisiplin. Ada ahli data Global Positioning System (GPS) dan ahli tsunami. Riset ini meneliti berbagai sisi tentangseismic gapdi selatan Pulau Jawa.Seismic gapdimaksud merupakan zona tepi gempa yang memanjang di selatan Pulau Jawa, tepatnya dari Jawa Barat ke Jawa Timur.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif