Dosen Psikologis Universitas Airlangga (Unair) Atika Dian Ariana. DOK Unair
Dosen Psikologis Universitas Airlangga (Unair) Atika Dian Ariana. DOK Unair

Psikolog Unair Sebut Homoseksual Bisa Muncul Bukan Karena Faktor Psikologis Saja

Renatha Swasty • 20 Mei 2022 09:22
Jakarta: Seseorang yang menjadi homoseksual atau LGBT bukan saja karena faktor psikologis. Muculnya homoseksual terdiri atas faktor biologis, psikologis, dan sosial.
 
Dosen Psikologis Universitas Airlangga (Unair) Atika Dian Ariana menjelaskan berbicara perihal LGBT, perlu dipahami perbedaan antara identitas seksual dan orientasi seksual. Identitas seksual pada dasarnya merupakan bagian dari konsep seseorang menganggap diri mereka sebagai apa dalam hal peran seksualnya (laki-laki atau perempuan).
 
Sementara itu, orientasi seksual pada dasarnya ketertarikan kepada peran seksual yang dituju. Baik romantis, emosional, maupun fisik kepada orang yang kebetulan jenis kelaminya sama yang kemudian disebut homoseksual atau heteroseksual. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Tapi apabila kita ingin sedikit lebih terbuka, bahwa orientasi seksual itu bentuknya banyak sekali. Nah kebetulan aja secara umum yang paling populer adalah homoseksual dan heteroseksual,” kata Ariana dikutip dari unair.ac.id, Jumat, 20 Mei 2022.
 
Ariana menyebut homoseksual bisa muncul karena faktor psikologis. Namun, dari perspektif yang lebih komprehensif, ada faktor lainnya. 
 
Yaitu, faktor biologis yang kemungkinan pada saat perkembangan dari fase anak menuju remaja hingga dewasa lebih dominan ke arah menyukai sesama jenis kelamin. Atau, bisa juga secara psikologis karena orientasi seksual tersebut tidak terjadi mendadak.
 
Sebab, sebenarnya sudah sesuai dengan perkembangan seseorang dan biasanya diawali sesuai dengan fungsi seksualnya, yaitu pada masa pubertas. 
 
“Cuma, persoalannya kadang-kadang di masa remaja itu seseorang tidak langsung menyadari identitas seksual dan orientasi seksualnya. Kadang-kadang untuk beberapa orang perlu pengalaman seksual atau berperilaku seksual dulu untuk kemudian menyadari bahwa mereka ini tidak seperti yang kebanyakan orang disekitarnya lakukan,” papar dia.  
 
Ariana mengatakan pada beberapa orang kesadaran orientasi dan identitas seksual tak terjadi cepat. Identitas seseorang berkembang ketika remaja. 
 
"Seperti inilah seseorang sebenarnya identitasnya itu berkembang ketika remaja, ia sudah punya pandangan saya ini apa? peran jenisnya apa? Kemudian orientasi seksualnya juga sudah mulai semakin tampak,” tutur dia.  
 
Ariana mengatakan ada keraguan di diri seseorang. Di sinilah faktor sosial budaya berperan penting. 
 
Misalnya, ketika kebetulan seseorang berada di komunitas yang memiliki orientasi seksual yang kurang lebih sama, kemudian dia merasa mendapat penguatan. Seseorang itu merasa diterima dengan keadaan yang seperti ini dan sebaliknya. 
 
“Bila seseorang yang memiliki orientasi seksual yang artipikal atau berbeda dari kebanyakan tapi kemudian dia berada di komunitas yang tidak memberikan dukungan atau bahkan menolak, bisa jadi ini yang kemudian menimbulkan konflik,” tutur dia. 
 
Baca: Pro-Kontra LGBT, Ahli Genetika UNAIR Beberkan Pandangan Ilmiahnya
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif