Dosen Departemen Ilmu Penyakt Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Unpad Indah Suasani Wahyuni. DOK Unpad
Dosen Departemen Ilmu Penyakt Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Unpad Indah Suasani Wahyuni. DOK Unpad

Dosen FKG Unpad Temukan Potensi Ekstrak Etanol Kencur untuk Anti-Sariawan

Renatha Swasty • 14 April 2022 14:21
Jakarta: Tanaman kencur (Kaempferia galanga L) dikenal memiliki khasiat sebagai anti-radang atau mampu mengatasi nyeri. Masyarakat Indonesia banyak memanfaatkan kencur untuk mengobati bagian tubuh yang bengkak, obat batuk tradisional, hingga terapi sariawan.
 
Namun, masih sedikit yang menjelaskan mengenai khasiat kencur mengobati masalah kesehatan mulut. Hal itu mendorong dosen Departemen Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (Unpad) Indah Suasani Wahyuni meneliti pengujian ekstrak etanol kencur mengambat enzim Siklooksigenase (COX) pada ulserasi di mukosa mulut.
 
Pengembangan kencur sebagai anti-inflamasi untuk ulserasi di mukosa mulut didukung dengan ketersediaan bahan baku. Indah menemukan daerah pertanian yang menghasilkan kencur di Desa Buniayu, Kecamatan Cagak, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Secara teoritis dan kesediaan bahan bakunya memadai, maka kencur cocok dan dapat dikembangkan sebagai obat,” kata Indah dikutip dari laman unpad.ac.id, Kamis, 14 April 2022.  
 
Langkah awal, Indah melakukan determinasi tanaman. Pada tahap ini, Indah memastikan terlebih dahulu taksonomi dari tanaman dan rimpang, sehingga memiliki sertifikat determinasi resmi.
 
Selanjutnya, penyiapan bahan baku berupa rimpang kencur segar untuk diekstraksi menggunakan etanol 70 persen. Indah menggunakan dua jenis kencur yang memiliki perbedaan musim panen.
 
Satu kencur merupakan hasil panen di musim hujan sedangkan satu lagi merupakan hasil panen di musim kemarau. Penggunaan dua jenis kencur ini untuk melihat jumlah metabolit sekunder dari ekstrak etanol kencur tersebut.
 
Metabolit sekunder diperlukan tanaman untuk bertahan menghadapi lingkungan dan akan menentukan seberapa besar kandungan flavonoid dan metabolit sekunder lainnya pada ekstrak etanol rimpang kencur tersebut. Melalui pengujian dua jenis kencur tersebut, Indah menemukan kencur yang dipanen di musim hujan memiliki jumlah metabolit sekunder lebih banyak.
 
Ketersediaan air yang cukup di musim hujan membuat rimpang kencur mampu bertahan hidup dengan baik. Sehingga potensi menghasilkan metabolit sekunder bisa lebih maksimal.
 
“Sementara pada saat musim kemarau tanaman/rimpang cenderung untuk berusaha menyimpan air sebanyak-banyaknya untuk mempertahankan kehidupannya, sehingga kemampuan menghasilkan metabolit sekundernya berkurang,” papar dia.
 
Ekstrak etanol kencur tersebut kemudian dilakukan pemeriksaan kandungan kimia secara kualitatif dan kuantitatif. Pemeriksaan untuk memastikan kandungan yang nantinya berperan dalam aktivitas ekstrak.
 
Seluruh pemeriksaan kimia tersebut dilakukan di kampus Unpad. Pemeriksaan fitokimia dilakukan di Laboratorium Sentral Unpad, sedangkan studi spektofotometri dan kromatografi dilakukan di Laboratorium Fakultas Farmasi Unpad.
 
Indah memaparkan pengujian selanjutnya adalah studi in vitro di laboratorium untuk mengetahui apakah ekstrak etanol kencur memiliki aktivitas menghambat enzim COX-2 atau enzim yang penting dalam proses peradangan. Pengujian juga secara in vivo kepada hewan coba.
 
Uji dilakukan untuk mengetahui apakah ekstrak ini memiliki aktivitas meredakan peradangan dan menyembuhkan sariawan pada mulut hewan. Baik makroskopis maupun mikroskopis.
 
“Tahap terakhir berupa pengujian mekanisme kerja ekstrak sebagai obat sariawan, apakah dapat menghambat ekspresi protein atau enzim peradangannya,” tutur dia.  
 
Hasil riset menunjukkan flavonoid pada kencur berpotensi memiliki khasiat anti-inflamasi yang baik. Berdasarkan studi in silico, Ekstrak ini secara selektif mampu menghambat COX-2 dengan konsentrasi yang rendah.
 
Hasil ini dipandang baik, mengingat selama ini obat antiradang konvensional banyak yang tidak selektif menghambat enzim COX-2, sehingga acapkali menimbulkan efek samping berupa iritasi lambung. Riset disertasi ini berhasil dipresentasikan dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Farmasi Unpad secara hybrid.
 
Indah berhasil memperoleh yudisium Cumlaude. Tim promotor pembimbing merupakan kolaborasi antara Jutti Levita dari Fakultas Farmasi Unpad, Irna Sufiawati dari Fakultas Kedokteran Gigi Unpad, dan Wipawee Nittayananta dari Thammasat University, Thailand.
 
Indah mengatakan riset ini akan terus berlanjut. Riset lanjutan ialah melakukan pengujian toksisitas untuk memastikan keamanan obat, membuat formulasi obat sesuai kondisi mulut, melakukan uji klinis ke manusia, hingga pengembangan produk dan pengajuan paten.
 
Dia optimistis ekstrak etanol kencur potensial dikembangkan menjadi obat. Penelitian dasar yang telah dilakukan terbukti memiliki khasiat anti-inflamasi, khususnya sebagai anti-ulserasi mukosa mulut (anti-sariawan).
 
“Berdasarkan penelitian dasar ini konsentrasi atau dosis ekstrak kencur yang diperlukan sangat rendah, sehingga dapat diperkirakan biaya yang diperlukan untuk produksi obat juga akan efektif (cost-effective). Selain itu didukung oleh ketersediaan bahan baku dan mudah didapat, tidak jauh dari kota Bandung,” tutur dia.
 
Riset ini didanai penuh beasiswa Riset Disertasi Doktor Unpad (RDDU). Riset ini juga mendapat dukungan ko-promotor dari luar negeri, yaitu Wipawee Nittayananta dari Thammasat University, Thailand.
 
Baca: Guru Besar Unair Temukan Potensi Kencur Hingga Biji-bijian untuk Obat Kanker
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif