Ilustrasi ganja. DOK
Ilustrasi ganja. DOK

Begini Hukum Islam untuk Penggunaan Ganja Medis Menurut Pakar Unair

Renatha Swasty • 05 Juli 2022 10:03
Jakarta: Isu legalisasi ganja untuk medis tengah menjadi pembahasan hangat akhir-akhir ini. Belakangan, Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa mengenai penggunaan ganja medis.
 
Ahli hukum Islam Univeristas Airlangga (Unair) Prawitra Thalib menjelaskan lima hal yang menyebabkan diturunkannya suatu syariat dalam Islam. Prawitra menjelaskan hukum Islam ada untuk memelihara lima aspek yang disebut maqashid syari’at.
 
“Pemeliharaan agama, pemeliharaan nyawa, pemeliharaan akal, pemeliharaan keturunan, dan pemeliharaan harta,” kata Prawitra dikutip dari laman unair.ac.id, Selasa, 5 Juli 2022.  
Dia menuturkan penggunaan ganja bila ditujukan untuk memelihara nyawa diperbolehkan. Namun, demi memelihara akal, penggunaan ganja untuk tujuan rekreasional diharamkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Fatwa ganja medis ini baik. Untuk menegaskan batasan penggunaan ganja untuk kepentingan memelihara nyawa,” tutur dosen Fakultas Hukum Unair ini.
 
Prawitra menegaskan fatwa legalisasi ganja juga seharusnya mampu mengakomodasi jangan sampai ada penyalahgunaan. Fatwa itu juga berfungsi mencegah salah tafsir ihwal ganja dihalalkan sepenuhnya.
 
“Kalau sehat walafiat pakai ganja tetap tidak boleh,” tegas dia. 
 
Prawitra juga berpendapat MUI harus mempertimbangkan aspek urgensi ganja medis bila ingin mengeluarkan fatwa mengenai legalitasnya.
 
“Yang dikedepankan itu hisbunnafs, pemeliharaan nyawa. Jika tidak dipakai maka nyawa terancam, itu bisa,” tutur Prawitra. 
 
Penggunaan ganja harus ditujukan untuk pemeliharaan nyawa tanpa membahayakan pemeliharaan akal. Namun, dia mengatakan fatwa MUI bersikap tidak mengikat. 
 
Fatwa MUI berfungsi sama seperti pendapat hukum (legal opinion) yang dikeluarkan seorang ahli hukum. “Pada prinsipnya pendapat hukum itu tidak mengikat,” tutur dia. 
 
Prawitra menyebut legalisasi ganja medis harus ditetapkan dalam undang-undang untuk memiliki kekuatan hukum yang mengikat. Sebelumnya, isu ini harus menjadi pembahasan dalam program legislasi nasional terlebih dahulu.
 
Konsekuensinya, pemerintah Indonesia harus mampu melakukan law enforcement terhadap undang-undang tersebut. “Saya takutnya kalau tidak dikontrol dengan baik, ganja yang awal mulanya untuk keperluan medis disalahgunakan untuk kepentingan happy-happy,” tutur Prawitra. 
 
Prawitra juga mengimbau agar law enforcement dijalankan dengan baik. Prawitra yakin upaya legalisasi ganja medis sia-sia bila instrumen penegakan hukum di Indonesia belum kuat dan law enforcement belum maksimal. 
 
“Pertimbangkan Indonesia ready atau tidak. Jangan sampai niatnya maslahat tapi hasilnya mudarat. Utamakan kemaslahatan untuk menghilangkan kemudharatan. Insyaallah berkah,” tutur dia. 
Baca juga: Pakar Farmasi UGM Jelaskan Penggunaan Ganja untuk Medis

 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif