Berangkat dari pemikiran tersebut, Akademi Perempuan NasDem (APN) mempersembahkan APN Woman’s Writing Clinic: “Perempuan Menulis, Agensi Strategis”, sebuah rangkaian pengembangan kapasitas perempuan dalam membaca persoalan sosial dan mengolahnya menjadi gagasan serta tulisan yang berorientasi pada perubahan.
Rangkaian kegiatan ini dibuka melalui Pra-Clinic pada Jumat, 16 Oktober 2026, pukul 14.00–16.00 WIB secara daring melalui Zoom, dengan tema “Feminisme Pancasila sebagai Lensa Analisa Sosial”. Kegiatan dilanjutkan dengan Writing Clinic pada 22 Oktober 2026 dan Post-Clinic pada 29 Oktober–19 November 2026.
APN meneladani R.A. Kartini yang menunjukkan bagaimana pemikirannya mengubah keadaan bahkan melampaui zamannya. Melalui surat-suratnya, Kartini menyampaikan kegelisahan, pemikiran, dan harapannya tentang pendidikan, kehidupan perempuan, serta masyarakat yang lebih adil. “Gagasannya terus dibaca dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya hingga kini,” kata Amelia Anggraeni, Ketua Bidang Perempuan dan Anak sekaligus Katua APN, di Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2026.
Semangat Kartini masih relevan dengan tantangan perempuan hari ini berupa ketimpangan pembagian kerja perawatan, terbatasnya kesempatan ekonomi, kekerasan berbasis gender, hingga rendahnya keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan. Isu tersebut membutuhkan lebih banyak suara dan perspektif perempuan di ruang publik.
Menulis menjadi salah satu bentuk soft power: kemampuan memengaruhi cara masyarakat memahami persoalan, membangun percakapan publik, dan mendorong perubahan tanpa harus selalu bertumpu pada kekuasaan formal.
“Perempuan tidak harus menunggu memiliki jabatan untuk memimpin perubahan. Melalui pengetahuan, gagasan, dan tulisan, perempuan dapat membangun kesadaran serta memengaruhi arah kebijakan dan kehidupan masyarakat,” kata Eva Sundari, Pengarah APN yang juga Ketua Bidang Migran DPP Nasdem tersebut.
Baca Juga :
Rumah Migran dan Care Economy NasDem Jateng Selenggarakan Curcol untuk Pekerja Jawa Tengah
Pada sesi Pra-Clinic, Eva Sundari akan menjadi narasumber dengan moderator Arimbi Heroeputri, Komisioner Komnas Perempuan periode 2007–2014. Pengantar kegiatan disampaikan oleh Amelia Anggraini, Anggota Komisi I DPR RI sekaligus Ketua DPP Partai NasDem Bidang Perempuan dan Anak.
Peserta diajak memahami Feminisme Pancasila sebagai lensa untuk membaca realitas sosial dengan menghubungkan pengalaman perempuan, struktur ketimpangan, relasi kuasa, nilai kemanusiaan, dan cita-cita keadilan sosial.
Ilustrasi/Medcom
Pembelajaran tidak berhenti pada pengenalan konsep. Peserta juga diajak membaca persoalan secara kritis: siapa yang terdampak, apa penyebab strukturalnya, bagaimana ketimpangan dipertahankan, dan perubahan apa yang perlu diperjuangkan.
Pendekatan ini diharapkan menggeser cara pandang dari menyalahkan individu menuju pemahaman mengenai pentingnya membangun ekosistem yang memungkinkan kesetaraan, termasuk melalui pembagian tanggung jawab perawatan yang lebih adil, kebijakan yang responsif gender, dan ruang partisipasi yang setara.
Pra-Clinic pada 16 Oktober menjadi fondasi perspektif dan penyiapan gagasan. Writing Clinic pada 22 Oktober berfokus pada teknik menulis opini dan op-ed, penguatan argumen, penggunaan fakta dan data, serta penyusunan draf tulisan.
Selanjutnya, Post-Clinic pada 29 Oktober hingga 19 November diarahkan pada penyuntingan, finalisasi, dan pengembangan peluang publikasi melalui media. Melalui proses tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh keterampilan menulis, tetapi juga mengembangkan agensi untuk mendefinisikan persoalan publik, menyampaikan posisi berdasarkan bukti, menawarkan solusi, dan berkontribusi dalam percakapan mengenai masa depan Indonesia.
Program ini sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya jejaring penulis perempuan yang mampu mengangkat pengalaman dan pengetahuan dari berbagai latar belakang menjadi gagasan yang relevan bagi masyarakat.
Sebagaimana semangat kepemimpinan mata air, perubahan dapat dimulai dari sumber-sumber kecil yang menghidupi lingkungan sekitarnya. Tulisan menjadi salah satu cara mengalirkan pengetahuan, menyuburkan kesadaran, dan mewariskan gagasan kepada generasi mendatang.