Suasana Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul saat pandemi covid-19. Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Suasana Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul saat pandemi covid-19. Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim

Pandemi, Mengaji Daring Hingga Hilangnya Tradisi 'Kembulan' di Pesantren

Pendidikan pesantren Virus Korona Kenormalan Baru
Ahmad Mustaqim • 02 Juli 2020 10:10
Yogyakarta: Andika Muhammad tak banyak melakukan aktivitas meski tinggal di Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kehidupan di pondok pesantren di tengah pandemi covid-19 menuntut dia dan santri lain harus banyak beradaptasi.
 
"Kalau biasanya sering kegiatan ngaji, saat wabah korona seperti ini intensitasnya berkurang. Ada perubahan sistem mengaji juga," kata Andika saat ditemui di Pondok Pesantren Ali Maksum, Rabu, 1 Juli 2020.
 
Ia mengatakan, sebagian besar santri di pondok pesantren tersebut telah diizinkan pulang ke kampung halaman sejak covid-19 mulai masuk ke Indonesia. Dari 2.035 santri, hanya ada sekitar 60 santri yang memilih tinggi di asrama.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Asal saya Sanden, (Kabupaten) Bantul, tapi Lebaran kemarin tidak mudik karena pandemi. Untuk menjaga lebih aman saja," ujarnya.
 
Baca juga:SMK PGRI di Mejayan Luncurkan Mobil Listrik untuk UMKM
 
Pemuda 20 tahun itu mengatakan, hampir semua aktivitas mengaji yang biasanya berkumpul langsung diubah konsepnya. Jika harus mengaji dengan berkumpulm maka harus melakukan jaga jarak fisik.
 
"Kami juga ada mengaji sistem daring. Ada juga yang dilakukan dengan live media sosial," ujarnya.
 
Ia mengatakan, mengaji dengan sistem daring bisa menjadi alternatif media untuk menghubungkan santri di pesantren maupun yang sedang pulang di kampung halaman. Apalagi, sebagian besar santri berasal dari luar Yogyakarta.
 
Tak hanya konsep mengaji yang telah diubah, tidur dan makan pun diubah. Dua aktivitas itu kini tak bisa dilakukan dengan bergerombol. Bahkan, makan bersama atau biasa disebut 'kembulan' kini ditiadakan.
 
Baca juga: Menag Terbitkan Panduan Pembelajaran di Pesantren
 
Muhammaf Nuril Farid Firdaus, rekan Andika, juga menjalani hal serupa. Pondok menambahkan beberapa kegiatan tambahan, yakni olahraga dan berjemur di pagi hari. Ini dilakukan untuk meningkatkan imunitas.
 
"Ada kebiasaan yang berubah (selama pandemi covid-19). Pagi olahtaga, ada berjemur. Siang bisa tidur. Rebahan lah. Malamnya mengaji," kata mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta ini.
 
Berbeda dengan Andika, Firdaus memilih tetap pulang kampung halaman di Bali pada Lebaran kemarin. Rumah Firdaus di Bali berdekatan dengan Bandara Internasional Ngurah Rai.
 
"Lebaran kemarin pulang H+2. Di rumah isolasi 14 hari, balik ke pondok juga isolasi dua minggu. Ada bawa surat pengantar juga dari desa," ujarnya.
 
Prosedur ketat sudah diterapkan di Pondok Pesantren Ali Maksum. Firdaus misalnya, harus menjalani rapid tes usai pulang dari Bali. Hasilnya nonreaktif.
 
Andika dan Firdaus sepakat,wabah ini membawa banyak hikmah. Salah satunya menjadi sarana meningkatkan ibadah kepada Sang Pencipta. Selain itu, lingkungan pesantren dan kampung pun menjadi lebih bersih. Mereka berharap pandemi segera usai, agar bisa beraktivitas normal.
 

(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif