Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Epidemiolog UGM: Waspadai Munculnya Klaster Rumah Sakit

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 24 September 2020 15:32
Jakarta: Klaster rumah sakit ditengarai juga berpotensi mendominasi penyebaran covid-19 sehingga mengundang kekhawatiran banyak pihak. Jika persoalan ini tidak mendapat perhatian, justru akan memperparah angka penularan covid-19 di Indonesia.
 
Ahli epidemiologi FKKMK UGM, Bayu Satria, S.Ked.,MPH., mengatakan, penularan covid-19 dari rumah sakit biasanya disebabkan dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Untuk faktor internal terkait hal-hal yang sama, di antaranya protokol pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di rumah sakit tidak terlaksana dengan baik.
 
Selain itu, tidak adanya pembagian daerah khusus pasien dengan gejala suspect covid-19 dan khusus pasien noncovid-19 serta penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang tidak memenuhi standar di rumah sakit.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Aturan terkait dengan pencegahan covid-19 ketika tidak melayani pasien seperti saat makan, salat karena sudah tidak boleh lagi ada makan-makan bersama di lingkungan RS atau salat berjamaah, maka hal-hal semacam ini tanpa diatur dengan baik," ujar Bayu dalam keterangannya, Kamis, 24 September 2020.
 
Sementara untuk faktor eksternal, kata Bayu, biasanya terkait perilaku dan kebiasaan pegawai RS saat berada di luar rumah sakit. Mereka terkadang tidak mematuhi protokol kesehatan, seperti tetap kongkow-kongkow dengan teman-teman tanpa menggunakan masker dan tanpa jaga jarak.
 
“Mereka beranggapan karena bertemu kolega atau teman tidak perlu memakai masker, demikian juga saat bersama saudaranya, selalu beranggapan seperti itu tidak perlu pakai masker," katanya.
 
Baca juga:Peneliti Indonesia Pereteli Kelemahan Klaim Li Meng Yan Soal Covid-19
 
Meski begitu, ia tidak bisa memastikan mana yang lebih berperan terhadap penyebaran apakah faktor eksternal atau internal. Ia mengaku mengalami kesulitan untuk bisa mengetahuinya sebab hingga saat ini tidak ada data detail mengenai penyelidikan setiap kasus, terutama di rumah sakit.
 
“Kita tidak bisa tahu dengan pasti karena setiap klaster rumah sakit bisa jadi berbeda penyebab awalnya. Kalau terjadi di rumah sakit yang bukan rujukan covid-19 kemungkinan karena faktor internal lebih besar, tapi yang mana kita tidak tahu pasti," ucapnya.
 
Bayu mengakui tidak bisa juga mengatakan bahwa klaster rumah sakit terjadi karena protokol kesehatan di sana diabaikan. Banyak pihak hanya bisa menduga kemungkinan dari gabungan antara protokol kesehatan yang kurang sempurna di dalam rumah sakit dengan perilaku teman-teman yang bekerja di rumah sakit yang sedikit kurang disiplin.
 
“Karena memang rumah sakit sendiri merupakan tempat risiko tinggi. Sebenarnya sudah dari awal muncul klaster rumah sakit di beberapa daerah," ujar Bayu.
 
Upaya yang bisa dilakukan adalah memastikan hal-hal di atas dilakukan dengan benar, baik untuk yang disebabkan karena faktor internal dan eksternal. Sebab jika satu saja tidak dilakukan maka akan fatal.
 
"Karenarumah sakit memang merupakan daerah risiko tinggi penularan covid-19," terangnya.
 
Oleh karena itu, imbuhnya, jika kemudian ada yang positif maka upaya yang dilakukan adalah penyelidikan epidemiologi secara baik dan benar guna mengetahui apa yang menyebabkan kasus tersebut terjadi.
 
“Karena itu, untuk semua tenaga kesehatan yang frontline, yang langsung berhadapan dengan pasien agar menjamin aman selalu menggunakan APD sesuai level risiko di tempat masing-masing. Selain itu, mungkin yang diperlukan peran aktif untuk pengecekan dari eksternal rumah sakit, apakah rumah sakit sudah melakukan protokol PPI dan covid-19," tandasnya.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif