Ilustrasi sapi. Medcom.id
Ilustrasi sapi. Medcom.id

Dokter IPB Ungkap Hal-hal yang Mesti Diketahui Soal PMK: dari Penyebaran Hingga Pencegahan Virus

Renatha Swasty • 18 Mei 2022 19:38
Jakarta: Dosen IPB University dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) Sri Murtini mengungkapkan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak disebabkan virus RNA jenis aptovirus dari famili Picornaviridae. Gejala klinisnya ialah gangguan atau erosi pada daerah mukosa mulut, lepuhan pada lidah, serta erosi pada gusi, mulut. serta nostril atau cermin hidungnya, dan kuku yang mengalami peradangan.
 
“Biasanya virus ini menyerang hewan berkuku genap seperti hewan ternak dan ruminansia. Tetapi pada sapi itu yang paling menunjukkan gejala klinis yang nyata,” ungkap dia dalam keterangan tertulis, Kamis, 18 Mei 2022.
 
Dia menyebut penyebaran virus PMK mengkhawatirkan bagi peternak karena penyebaran tergolong cepat dan ditularkan melalui udara. Bahkan, peternak juga berpotensi memindahkan virus ke kandang lain yang belum terkontaminasi.  

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Seharusnya ada biosekuriti yang ketat untuk mencegah penyebarannya. Karena viabilitasnya sangat tinggi hingga 100 persen walaupun mortalitasnya rendah. Hal ini dapat menyebabkan produktivitas hewan menurun dan merugikan secara ekonomi,” papa dia. 
 
Sementara itu, dosen IPB University dari SKHB Denny Widaya Lukman menuturkan PMK bukan masalah kesehatan masyarakat atau zoonosis. Dia menjelaskan masalah utamanya ialah penyebaran antar hewan sangat tinggi dan daya tahan virus di lingkungan bisa mencapai satu bulan. 
 
Dia mengatakan apabila tidak segera diatasi dapat menjadi sumber penularan pada hewan ternak yang rentan. Denny menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir dan panik atas berita yang beredar. 
 
Sebab, virus PMK tidak membahayakan bagi manusia asal dapat mengolah daging dan produk ternak dengan baik dan benar. Dia mengatakan hal yang perlu dikhawatirkan ialah masyarakat berpotensi menjadi sumber penularan ke hewan rentan lain.
 
“Jadi, kita harus tetap waspada jangan sampai diri kita itu menjadi sumber penular, tapi virus itu tidak terlalu bahaya ke manusia,” tutur dia. 
 
Denny menyebut pengendalian atas PMK di antaranya pembatasan lalu lintas ternak yang sakit dari daerah tertular serta pembersihan dan desinfeksi kandang secara berkala. Hewan ternak juga wajib divaksinasi meskipun sebelumnya Indonesia termasuk negara bebas PMK selama 40 tahun tanpa vaksinasi. 
 
Dia juga mengingatkan peternak, susu mentah di daerah sebaiknya tidak diberikan pada pedet atau anak sapi. Hal ini dapat memicu penyebaran penyakit pada hewan rentan yang berusia muda.
 
“Dari aspek kesehatan masyarakat dan aspek keamanan pangan ini tidak masalah, apalagi kalau kita melihat kebiasaan orang Indonesia itu makan matang. Dari kajian risiko dapat dikatakan sangat rendah bahkan bisa saya katakan sebagai risiko yang bisa diabaikan,” kata dia.
 
Denny merekomendasikan pemotongan hewan wajib dilakukan di rumah potong hewan. Rumah pemotongan hewan diawasi dokter hewan sehingga dilakukan pemeriksaan sebelum diedarkan. 
 
Dia menyebut rumah potong hewan berperan signifikan dalam pengendalian penyakit hewan terutama pada PMK. Serta menjadi informasi peringatan dini pada daerah asal hewan.
 
Baca: Cegah Penularan PMK, Peternak Harus Isolasi dan Sterilisasi Kandang
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif