Rektor Universitas Pertahanan Prof Amarullah Octavian (kiri) bersama moderator Ida Nadya Octaria. Foto: Tangkapan layar Zoom
Rektor Universitas Pertahanan Prof Amarullah Octavian (kiri) bersama moderator Ida Nadya Octaria. Foto: Tangkapan layar Zoom

3 Guru Besar Bahas Kepemimpinan Era Society 5.0, Ini Konsep Mereka

Medcom • 15 Mei 2022 11:22
Jakarta: Tiga guru besar dari universitas berbeda membahas kepemimpinan di era Society 5.0. Pembahasan dilakukan dalam webinar bertema Kepemimpinan Era Sociaty 5.0 yang diselenggarakan mahasiswa S3 Program Studi Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
 
Ketiga guru besar itu adalah Rektor Universitas Pertahanan Amarulla Octavian, Guru Besar UPI Aan Komariah, dan Guru Besar Universitas Negeri Malang Imron Arifin. Sebagai pemantik, Kepala Program Studi Administrasi Pendidikan UPI, Diding Nurdin, menyatakan era Industri 4.0 dan Society 5.0 tidak dapat dihindari. 
 
"Organisasi memerlukan pemimpin yang adaptif terhadap perubahan yang cepat dan penuh ketidakpastian," kata Diding melalui keterangan tertulis, Minggu, 15 Mei 2022. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Diding berharap webinar ini memberikan kontribusi nyata dalam menambah wawasan bagi pemimpin dan masyarakat terkait kepemimpinan di era Society 5.0.
 
Wakil Dekan bidang akademik, Nandang Budiman, menyatakan webinar ini merupakan bagian kontribusi nyata prodi S3 Administrasi Pendidikan. Terutama dalam menyiapkan pemimpin yang adapatif di era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) yang mengacu pada lingkungan bisnis yang semakin bergejolak, kompleks, dan semakin tidak pasti seperti yang terjadi satu dekade terakhir.
 
Webinar, diawali sesi ke-1 oleh Imron Arifin yang menyajikan kepemimpinan di era metaverse. Ia menawarkan model kepemimpinan religius-humastik dalam kepempimpinan era 5.0 dengan role model Nabi Muhammad SAW sebagai rujukan kepemimpinan. 
 
"Tantangan pendidikan hari ini membutuhkan kepemimpinan yang adaftif," kata Imron.
 

Manfaatkan artificial intelligence

Guru Besar dari Universitas Pertahanan Prof Amarullah Octavian menyatakan peran dan fungsi artificial intelligence (AI) saat ini sangat diperlukan. Hal ini akan tepat jika kalangan menengah yang menjadi pionir. 
 
"Kalangan menengah tersebut adalah gabungan antara kalangan elite dan kalangan orang berpendidikan. Tentunya perlu dilakukan melalui pendidikan dan tahapan pelatihan yang tidak mudah serta berkelanjutan," kata dia. 
 
Ia juga menggarisbawahi bahwa pemimpin era society 5.0 harus memiliki kemampuan IQ, EQ, SQ, dan AQ yang berkembang setiap waktunya. Dan didukung oleh kebijakan terkait agar para pemimpin bisa terus mengembangkan potensi AI yang ada dalam diri dan pengikutnya. 
 
"Pemimpin di era Society 5.0 juga harus mampu menjadi agen perubahan untuk mewujudkan tujuan utama undang-Undang, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa," kata Octavian.
 
Baca: Budaya Data menuju Era Society 5.0
 
Guru Besar UPI Aan Komariah menawarkan konsep pendidikan antisipatif. Konsep ini diharapkan mampu menggiring calon pemimpin menjalani kehidupannya dengan tujuan dari jenis pendidikan baru yang dibutuhkan dalam era Society 5.0.
 
Adapun persiapan yang harus dimiliki adalah harus mendukung dan seirama dengan kebutuhan stakeholder. "SDM professional dan unggul harus memiliki formula 4C, yakni critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreatif), communication (komunikasi), dan collaboration (kolaborasi)," kata Aan.
 
(UWA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif