Diskusi bertajuk 'Pendidikan Mewujudkan Manusia Pembelajar Kreatif' di Hotel Sultan, Jumat, 17 Mei 2019. Foto: Medcom.id/M Sholahadhin Azhar
Diskusi bertajuk 'Pendidikan Mewujudkan Manusia Pembelajar Kreatif' di Hotel Sultan, Jumat, 17 Mei 2019. Foto: Medcom.id/M Sholahadhin Azhar

Indonesia Perlu Penguatan Pendidikan Emosional

Pendidikan Pendidikan Tinggi
M Sholahadhin Azhar • 17 Mei 2019 22:46
Jakarta: Guru Besar UNJ Arief Rachman menilai, saat ini perlu ada penguatan pendidikan emosional di Indonesia. Terlebih, ada fakta tentang kondisi masyarakat Indonesia yang cenderung emosional.
 
"Bahwa ada kelemahan dalam pelaksanaan pendidikan. Orang mudah terhasut karena emosi lebih kuat dari akal," ujar Arief saat diskusi bertajuk 'Pendidikan Mewujudkan Manusia Pembelajar Kreatif' di Hotel Sultan, Jumat, 17 Mei 2019.
 
Menurutnya, banyak masyarakat yang hatinya kosong karena kurang pendidikan emosional. Padahal hal tersebut penting, karena manusia memiliki hati, perasaan dan akal yang harus diisi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Arief menyebut hal tersebut mudah diidentifikasi dengan menilai dari luar. Menurutnya, mereka yang kerap berkonflik bisa masuk kategori manusia dengan pendidikan emosional minim.
 
"Emosinya berada di atas akalnya, emosinya berada di atas logikanya," kata dia.
 
Solusinya, kata dia, perlu pengayaan pendidikan dengan tak hanya mengunggulkan proses pembelajaran saja. Sebab tujuan akhir dari hal tersebut bukan produk berupa nilai ujian yang bagus.
 
Arief menyebut, pendidikan harus menyentuh hati tiap anak didik. Para guru harus bisa menjadi tauladan bagi murid-murid mereka. Sehingga apa yang diajarkan tak hanya yang ditulis di buku.
 
Transfer pemikiran, kedewasaan dan kepemimpinan menjadi kata kunci. Dengan demikian, ruang emosi tiap siswa akan terisi dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) tak hanya menjadi jargon.
 
Dampaknya secara spesifik akan menyentuh segala aspek, bahkan dalam perilaku koruptif. Arief mengkritisi bagaimana orang-orang yang dinyatakan pintar secara gelar, banyak yang berperilaku menyimpang.
 
"Kita punya banyak sarjana, tapi kita kan hampir semua yang terjaring (Komisi Pemberantasan Korupsi) KPK tak ada yang tak bergelar sarjana," tandas dia.
 

(DMR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif