Prosesi pengukuhan empat profesor riset LIPI. Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.
Prosesi pengukuhan empat profesor riset LIPI. Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.

LIPI Kukuhkan Empat Profesor Riset

Pendidikan Riset dan Penelitian
Muhammad Syahrul Ramadhan • 20 Agustus 2019 13:23
Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengukuhkan empat peneliti menjadi profesor riset. Keempat profesor riset tersebut adalah Nina Artanti, Jamilah, Anny Sulaswatty, dan Ignasius Dwi Atmana.
 
Para profesor riset yang dikukuhkan berasal dari keilmuan kimia organik, biokimia, teknik kimia dan teknik lingkungan. Sidang pengukuhan ini dibuka oleh Ketua Majelis Sidang, Wawan Subianto.
 
Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko dalam sambutannya mengatakan, keempat peneliti yang dikukuhan hari ini menjadi profesor riset ke-134. Mulai dari 131,132,133 sampai 134.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia juga mengingatkan menjadi profesor riset bukan capaian tertinggi. Selain itu juga diharapkan tak membuat profesor malah bersantai-santai dalam mengemban tanggung Jawab.
 
"Tentu saja gelar ini bukan puncak capaian, dan sama sekali tidak memberikan keistimewaan dan hak khusus. Justru memunculkan kewajiban dan tanggung jawab moril luar biasa untuk memimpin aktivitas riset menuju level yang lebih membanggakan, lebih baik sebelumnya," kata Handoko dalam sambutannya, di Auditorium LIPI, Jakarta Selatan, Selasa, 20 Agustus 2019.
 
Dalam pengukuhan ini, masing-masing peneliti menyampaikan orasinya. Orasi pertama disampaikan Anny Sulaswatty dari Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lipia.
 
Orasi yang dibawakan Anny berjudul Penerapan Teknologi Nonkonvensional dalam Ekstraksi Komponen Atsiri dan Produk Turunannya di Indonesia. Ia mengungkapkan, penelitian ini penting untuk memperluas penerapan penelitian fraksinasi, pemurnian serta perbaikan teknologi ekstraksi.
 
Ia berharap penelitiannya inibisa meningkatkan nilai tambah minyak atsiri. "Riset dan pengembangan teknologi nonkonvensional perlu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri Indonesia sebagai bahan baku pembuatan produk pangan, food additives serta perasa makanan," kata Anny.
 
Salah satunya telah dilakukan oleh pemilik gelar Doktor bidang Food and Science Institut Pertanian Bogor (IPB) ini pada pengembangan green additive berbasis turunan minyak atsiri. Hasilnya, mampu menurunkan kadar air dalam solar hingga 15 persen dan menghemat bahan bakar hingga delapan persen.
 
Lalu Ignasius Dwi Atmana Sutapa, peneliti Pusat Penelitian Limnologi Lipi memnyampaikan orasinya yang berjudul "Pengembangan Instalasi Pengolahan Air Gambut (IPAG60) sebagai Sarana Pemenuhan Hak Dasar Masyarakat Atas Air di Daerah Gambut". Menurutnya, ketiadaan sumber air bersih serta kurangnya pengetahuan mengenai dampak terhadap kesehatan, memaksa masyarakat yang tinggal di wilayah gambut menggunakan air gambut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
 
Pemilik gelar Doktor Bidang Teknik Kimia dari Institut National Polytechnique de Lorraine (INPL) Nancy, Prancis ini mengatakan, IPAG60 bisa menjadi alternatif teknologi untuk mengolah air gambut. Mengolah air gambut menjadi air bersih atau minum yang memenuhi standar kesehatan.
 
"IPAG60 jelas Ignasius dapat mengolah berbagai jenis air gambut menjadi air bersih. Hasil uji terhadap kualitas air menunjukkan bahwa air produksi IPAG60 memenuhi standar golongan A," kata pria kelahiran Gunung Kidul ini.
 
Sementara Jamilah dalam orasinya mengungkapkan, kanker merupakan penyebab kematian dan kejangkiran tertinggi di dunia dibanding penyakit lain. Orasi ilmiah Jamilah berjudul "Penemuan Senyawa Aktif Baru dari Calophyllum spp sebagai Bahan Baku Obat Antikanker dan Antimalaria".
 
Jumlahnya, lanjut Jamilah, meningkat mencapai 70 persen dalam 20 tahun terakhir atau dua dekade. "Sementara malaria adalah penyakit infeksi yang mematikan nomor lima setelah penyakit infeksi saluran nafas, HIV/AIDS, diare, TBC," sebutnya.
 
Baca:LIPI: Ilmuwan Juga Butuh Regenerasi
 
Pemilik gelar Doktor bidang Kimia Organik jebolan Universitas Indonesia ini mengungkapkan, tumbuhan Calophyllum spp memiliki potensi sebagai sumber bahan baku obat kanker dan malaria. Calophyllum mengandung senyawa santon, kumarin, biflavonoid, benzofenon dan neoflavonoid, triterpen dan steroid yang memiliki aktivitas antiinflamasi, antijamur, antiplogekimia, antiplatelet, antitumor, antimalaria dan antibakteri serta anti-TBC.
 
Peluang terbuka lebar, kata Jamilah, untuk pengembangan obat dan antimalaria Calophyllum sebagai pengganti obat impor. Orasinya berjudul "Peran Uji Bioaktivitas untuk Penelitian Herbal dan Bahan Aktif Obat Berbasis Keanekaragaman Hayati.
 
Nina Artanti mengatakan, pengalaman historis manusia dengan tumbuhan sebagai bahan terapi telah membantu memperkenalkan senyawa kimia tunggal dalam pengobatan modern.Uji bioaktivitas merupakan salah satu tahapan penting, baik untuk pembuktian ilmiah, khasiat, herbal ataupun dalam penemuan dan pengembangan obat.
 
"Ada berbagai macam uji bioaktivitas yang dapat dimanfaatkan yaitu antioksidan, antidiabetes, sitotoksik dan antibakteri," terang pemilik gelar Doktor bidang Biosains dan Bioteknologi dari Ehime Universitas, Matsuyama, Jepang ini.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif