NEWSTICKER
Mendikbud, Nadiem Makarim saat hadir di IDE 2020, di Jakarta. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Mendikbud, Nadiem Makarim saat hadir di IDE 2020, di Jakarta. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

Nadiem Tanggapi Komentar Nyinyir Soal Kebijakannya

Pendidikan Kebijakan pendidikan Merdeka Belajar
Muhammad Syahrul Ramadhan • 31 Januari 2020 06:06
Jakarta: Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyadari bahwa setiap kebijakan baru pasti menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat. Nadiem pun memberi tanggapan tentang banyaknya resistensi atau penolakan yang muncul terhadap dua program teranyarnya, 'Kampus Merdeka' dan 'Merdeka Belajar'.
 
Bagi Nadiem, ada dua jenis resistensi. Pertama resistensi yang konstruktif, tak hanya menolak tapi memberi solusi. Kedua adalah resistensi yang tidak produktif atau nyinyir.
 
Penolakan yang nyinyir, kata mantan bos Gojek ini, cenderung bersifat emosional. "Nyinyir tapi bawaannya emosi dan biasanya karena tidak nyaman dengan perubahan," kata Nadiem dalam acara IDE 2020 'Indonesia New Landscape', di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 30 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nadiem menjelaskan, bahwa ada penolakan yang nyinyir itu karena merasa pendidikan di Indonesia sudah lumayan. Sehingga menolak dengan perubahan yang ia usung, baik Merdeka Belajar maupun Kampus Merdeka.
 
"Ini asumsi bahaya, (pendidikan) lumayan bagus, asumsinya perubahan menggerecok yang sudah ada. Padahal risiko terbesar justru karena diam di tempat dan percaya sudah layak," tegas Nadiem.
 
Jebolan Harvard University ini juga mengaku geram dengan asumsi seperti. Menurutnya perubahan adalah sebuah kenisacyaan dan untuk pendidikan di Indonesia memang membutuhkan lompatan, meski menimbulkan ketidaknyamanan.
 
"Makanya saya paling kesal ada beberapa bilang pendidikan jangan dijadikan eksperimental. Pelaku startup di sini kalau mendengar ini pasti sama kesalnya. Karena tidak ada inovasi atau perbaikan tanpa mencoba hal-hal baru di semua organisasi mau menciptakan anak-anak yang inovatif, kreatif, kolaboratif," ujar Nadiem.
 
Meski begitu, Nadiem merespons positif munculnya resistensi tersebut. Menurutnya resistensi merupakan sinyal bahwa programnya memberi perubahan.
 
"Kalau enggak ada resistensi itu artinya tidak cukup besar, tidak cukup berdampak, kalau saya melihat resistensi itu positif," tutup Nadiem.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif