Foto: UGM/Dok.Humas
Foto: UGM/Dok.Humas

Kemendikbud Dorong Jumlah PTN BH Bertambah

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Intan Yunelia • 16 Januari 2020 17:07
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mendorong Perguruan Tinggi Negeri (PTN) untuk menyandang status Badan Hukum atau PTN BH. Dari 122 PTN yang ada di Indonesia, baru11 PTN di antaranya saja yang berstatus Badan Hukum.
 
Hal tersebut disampaikan Sekjen Kemendikbud, Ainun Naim, dalam Forum Komunikasi Komite Audit PTN BH yang mengangkat tema PTN BH Era Industri 4.0: Pandangan Multidimensional, Kamis, 16 Januari di Balai Senat UGM. Forum ini digelar selama dua hari, 16-17 Januari 2020 dan dihadiri jajaran pimpinan 11 PTN BH di Indonesia antara lain ITB, ITS, IPB, UGM, UI, UPI, USU, Universitas Airlangga, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, dan Universitas Hassanudin.
 
“Kebijakan baru adalah peningkatan badan hukum, PTN-PTN didorong menjadi PTN BH,” kata Ainun dikutip dari laman UGM.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Seperti diketahui, saat ini terdapat 122 PTN meliputi 77 PTN bertatus Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), 34 bertatus Badan Layanan Umum (BLU), dan 11 PTN berstatus Badan Hukum.
 
Ainun mengatakan, selain mendorong PTN menjadi PTN BH, Kemendikbud juga memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa dalam mengembangkan diri dan belajar kebijakan baru. Untuk itu, perguruan tinggi diharapkan dapat menyediakan berbagai fasilitas bagi mahasiswa, sehingga 40 persen dari kurikulum bisa ditempuh dengan mengambil mata kuliah di luar prodi bahkan luar universitas.
 
“Maka kegiatan riset, kerja sosial, berwirausaha akan dihitung seperti SKS. Perguruan tinggi wajib menyediakan, karena menjadi hak bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri dengan berbagai jalan dan tidak tergantung kurikulum prodi,” urainya.
 
Menurutnya, kebijakan tersebut perlu diterapkan oleh PTN BH dan PTN lainnya, terlebih menghadapi era revolusi industri 4.0. “Kebijakan ini perlu diambil, supaya PTN BH dan PTN lainnya bisa merespons perubahan yang terjadi akibat revolusi industri 4.0,” katanya.
 
Dalam kesempatan itu, Ainun juga menyampaikan bahwa selama ini telah terjadi kesalahpahaman dalam memaknai status PTN BH oleh banyak pihak. Dia menjelaskan PTN BH bukanlah institusi pemerintah.
 
“Kalau PTN BH mengikuti sistem pemerintah ya tidak bisa maju,” katanya.
 
Ainun mencontohkan, dalam bidang SDM, PTN BH didorong untuk melepas sistem kepegawaian PNS agar terjadi hubungan kontraktual yang efisien dan efektif.
 
Sementara terkait pengelolaan keuangan dan aset, Ainun mengatakan, perlunya pembuatan pembukuan akuntansi dan sistem pelaporan keuangan organisasi nirlaba untuk menjaga akuntabilitas PTNB BH. Oleh sebab itu, dia berharap komite audit PTN BH dapat memberikan kesepahaman di antara berbagai pihak terkait esensi PTN BH dan memfasilitasi pengelolaan institusi secara keseluruhan.
 
Dalam forum tersebut turut mengundang Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Agus Joko Pramono, yang memberikan pemaparan tentang peranan komite audit dalam menjaga akuntabilitas PTN BH. Agus mengungkapkan, persoalan pengelolaan keuangan yang sering ditemui di PTN BH salah satunya adalah pengelolaan kas.
 
Antara lain adanya selisih kas riil, pembukuan dan dana titipan. Selain itu, juga persoalan yang banyak terjadi pada pengelolaan SNMPTN dan SBMPTN adalah program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta program Bidikmisi.
 
“Ini semua menjadi temuan dari tahun ke tahun. Di semester I 2019 ada 470 temuan, 116 rekomendasi, dan 33 laporan hasil pemeriksaan dengan tujuan tertentu (LHP PDTT) ,” jelasnya.
 
Guna menjaga akuntabilitas pada PTN BH, Agus menyebutkan, komite audit memilik peran yang cukup penting untuk mendorong perbaikan akuntabilitas pada PTN BH. Sebab, komite audit memiliki mandat melakukan pengawasan mencakup pelaporan keuangan dan pengendalian internal, manajemen risiko, kepatuhan, serta fungsi audit internal dan eksternal auditor.
 
Oleh karenan itu, Agus menekankan, perlunya kejelasan dan kecukupan wewenang dalam audit charter. Tak hanya itu, kombinasi latar belakang keilmuan dalam komite audit juga dibutuhkan untuk mewujudkan komite audit yang efektif.
 
“Selain profesional, akses yang memadai atas dokumen dan personel kunci serta hubungan kerja yang sehat dengan manajemen, internal dan eksternal auditor juga diperlukan,”pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif