Rektor UNS Jamal Wiwoho saat menyerahkan ijazah kepada putrinya usai pengambilan sumpah dokter. Foto: Dok. Humas UNS
Rektor UNS Jamal Wiwoho saat menyerahkan ijazah kepada putrinya usai pengambilan sumpah dokter. Foto: Dok. Humas UNS

Rektor UNS Mengambil Sumpah Dokter Putrinya Sendiri

Pendidikan Pendidikan Tinggi Pendidikan Kedokteran
Citra Larasati • 01 Oktober 2020 16:42
Jakarta:Pengambilan sumpah dokter periode ke-213 di Universitas Sebelah Maret (UNS) terasa berbeda dari biasanya. Sebab kali ini, Rektor UNS, Jamal Wiwoho secara langsung mengambil sumpah putrinya sendiri, yakni dr. Aldita Ratna Firdha Yanti.
 
Aldita merupakan anak kedua dari tiga bersaudara putra dan putri dari Rektor UNS. "Aldita ini putri Saya yang kedua, yang pertama sudah SH (Sarjana Hukum) di UNS, lalu yang ketiga masih SMA," kata Jamal kepada Medcom.id, Kamis, 1 Oktober 2020.
 
Jamal mengaku sempat cemas, karena anaknya akan terjun menjalankan profesinya tepat di tengah suasana pandemi covid-19. "Sempat deg-degan, namun demikian bismillah saja. Anak Saya sudah siap mengabdikan diri pada bidang kesehatan. Saat covid-19 tentu saja harus menaati dan disiplin dengan protokol covid-19," ungkapnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia berharap, Aldita dapat menjadi dokter yang mampu mengamalkan ilmu kedokterannya untuk melayani masyarakat. Selain itu, juga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di manapun ia ditugaskan.
 
"Semoga bisa mengamalkan ilmu kedokterannya," imbuh Jamal.
 
Baca juga:Pesan Rektor, Dokter Muda UNS Pegang Sumpah dan Jangan Komersil
 
Menurut Jamal, lulusan fakultas Kedokteran UNS harus memiliki kualitas bintang lima sesuai dengan kriteria yang ditetapkanWorld Health Organization (WHO).Yaitu memiliki pelayanan yang baik, tegas dan berani mengambil keputusan, komunikator yangandal, mampu memimpin komunitas, dan seorang manajer yang baik.
 
"Oleh karena itu, standar kualitas dokter lulusan Fakultas Kedokteran UNS setidaknya mengacu kepada kriteria WHO tersebut," kata Jamal.
 
Jamal mengakuakan sangat menyesali jika dalam perjalanannya adalulusan kedokteran UNS yang melenceng dari kriteria tersebut. "Saya dan sivitas akademika UNStidak ikhlas jika dalam perjalanan karier dan profesikedokteran,standar tersebutdikristalisasi menjadihanya menyembuhkan sangat kadang-kadang, hanya membantu melepaskan keluhan sekali-kali, dan membantu memberi kenyamanan pasien secukupnya," beber Jamal
 
Hal ini, kata Jamal, menjaditantangan besar bagi dunia kesehatan di Indonesia. Termasuk tantangan FakultasKedokteran UNS dalam memproduksi dokter-dokter barunya.
 
Pada dokter juga dibekali nilai profesi yang menjadi kompas dalam segala tindakannya. Nilai profesi itu antara lain adalah kemanusiaan (humanism), etika (ethics) dan kompetensi (competence).
 
Oleh karena itu, UNSsangat berharap agar profesi dokter tidak sekadar menjadiagent of treatmenttetapi juga sebagai agen sosial. Dokter tidak hanya menyembuhkan penyakit tetapi juga melakukan edukasi kepada masyarakat.
 
Dokter juga dituntut memiliki keterampilan efektif maupun klinis. Memiliki landasan ilmu kedokteran yang kuat, memiliki kehebatan dalam riset and pengembangan, juga berkemampuan dalam melayani dan menjamin keselamatan pasien.
 
Jamalmengucapkan selamat dan sukses atas prestasi dan keberhasilan para dokter dalammenyelesaikan proses panjang pendidikan kedokteran di UNS. Sehingga berhasil meraih gelar profesi dokter, meskipun dirayakan di tengah suasana pandemi.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif