Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti), Kemendikbud, Nizam. Foto: Dok. Kemendikbud
Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti), Kemendikbud, Nizam. Foto: Dok. Kemendikbud

KMI Expo XI 2020

Kewirausahaan Jadi Aktivitas Utama di Kampus Merdeka

Pendidikan Pendidikan Tinggi Perguruan Tinggi
Citra Larasati • 04 Desember 2020 17:43
Jakarta:  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengangkat program kewirausahaan menjadi prioritas kegiatan bagi mahasiswa.  Bahkan kewirausahaan menjadi salah satu aktivitas utama dalam kebijakan Kampus Merdeka.
 
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Ditjen Dikti, Kemendikbud, Aris Junaidi mengatakan, ada empat kegiatan unggulan dalam program kewirausahaan,  Pertama workshop kewirausahaan, kedua kegiatan bisnis manajemen mahasiswa Indonesia, ketiga startup mahasiswa Indonesia, dan keempat program pendampingan mahasiswa Indonesia.
 
"Ini semua kami support dari Belmawa," kata Aris, pada pembukaan acara Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (KMI) Expo XI 2020 di Podomoro University yang digelar secara daring, Jumat, 4 Desember 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Puncaknya, kata Aris, adalah expo atau pameran yang di dalamnya ada program penganugerahan kewirausahaan dengan tujuan agar mahasiswa dapat mandiri dalam berwirausaha dan mendirikan startup.  "Sudah ada 25 startup yang kami biayai," terangnya.
 
Aris mengatakan, pandemi covid-19 ini telah membuat semua kegiatan tidak lagi bisa berjalan normal.  Salah satunya adalah KMI, yang tahun ini terpaksa digelar secara daring dengan Universitas Podomoro sebagai tuan rumah pelaksanaannya.  "Kami selalu mendukung mahasiswa lebih maju, terurama di bidang entrepreneur.
 
Baca juga:  KIBM 2020, Upaya Kemendikbud Tumbuhkan Jiwa Wirausaha Mahasiswa
 
Dirjen Pendidikan Tinggi, Kemendikbud, Nizam mengatakan bahwa kampus agar harus menjadi tempat untuk menumbuhkan intelektualitas muda yang kritis dan santun.   Menurut Nizam, pengembangan diri mahasiswa yang holistik perlu dikembangkan, karena setiap mahasiswa memiliki passion yang berbeda antara satu dengan yang lain.
 
"Maka dari itu, potensi tersebut harus didorong agar mahasiswa dapat mengembangkannya,” ujar Nizam.
 
Lebih lanjut, Nizam menjelaskan bahwa kampus sebagai simpul pengembangan diri mahasiswa bertujuan untuk membangun semangat juang dan spirit mahasiswa agar menjadi mahasiswa berprestasi. Selain itu, mahasiswa juga harus memahami masalah yang dihadapi oleh bangsanya dan memiliki wawasan global yang luas agar dapat menjadi pemimpin yang solutif dan siap berbakti di seluruh pelosok negeri.
 
“Kampus harus mendorong mahasiswanya untuk mengembangkan olah pikir, olah keterampilan, olah raga, olah rasa, dan olah hati. Dengan begitu maka kita dapat melahirkan kampus-kampus yang berprestasi dan penuh dengan semangat untuk maju,” tegasnya.
 
Rektor Universitas Agung Podomoro, Bacelius Ruru mengatakan, bahwa KMI expo ini merupakan ajang rekognisi bagi mahasiswa dan mahasiswi untuk membuktikan kompetensinya sebagai calon entrepreneur.  "Karena itu Saya berharap meskipun situasi pandemi membuat beberapa kegiatan kita terpuruk, namun KMI Expo ini membuka mata kita, bahwa entrepreneurship sangat penting untuk bertahan," tegas Bacelius.
 
Sebab menurutnya, yang utama adalah bagaimana mencetak lebih banyak lagi wirausaha dalam negeri.  Untuk itu, upaya tersebut harus sudah dimulai sejak dini dengan menambah para wirausahawan muda dan tangguh sejak masih berstatu mahasiswa.
 
Dalam kesempatan yang sama, Professor of Entrepreneurship Babson College, Kelley menjelaskan bahwa pada tahun 2018, Indonesia memiliki tingkat kewirausahaan yang cukup tinggi dibandingkan 48 negara di asia lainnya. Selain itu, dunia kewirausahaan di Indonesia telah bersifat inklusif, sebab baik pria maupun wanita memiliki kesempatan yang sama untuk berwirausaha.
 
Tidak seperti di beberapa negara lain, saat wanita memiliki kesempatan lebih sedikit untuk berwirausaha.  Selain itu, Kelley memandang Indonesia telah melakukan upaya yang cukup baik dalam mengembangkan kewirausahaan nasional melalui inovasi dan teknologi.
 
Hal tersebut dapat dilihat melalui pendirian Bandung Techno Park yang ia nilai sebagai inovasi besar serta dapat dimanfaatkan pula untuk memajukan inovasi dan teknologi di Indonesia juga dapat membangun ekonomi bangsa.
 
“Kewirausahaan tidak hanya tentang startup, tetapi juga bisnis besar dalam bidang teknologi dan bisnis keluarga yang telah dilakukan oleh 75 persen entrepreneur dari 48 negara di Asia, sebanyak 81persen dari usaha tersebut berhasil berjalan dengan stabil,” tambah Kelley.
 
Kelley juga menyampaikan, bahwa stabilitas suatu usaha kerap didukung oleh budaya, kemampuan keuangan, dukungan pemerintah, pendidikan, dan infrastruktur yang ada.  Indonesia telah memiliki hal tersebut dalam konteks kewirausahaan nasional.
 
Namun, hal yang perlu difokuskan dalam kewirausahawan di Indonesia ialah menumbuhkan kepercayaan diri pada masyarakat untuk membangun usaha yang besar.  Bukan hanya tentang memulai usaha rintisan saja.
 
“Hal ini dapat dibangun melalui edukasi kewirausahaan di pendidikan tinggi di mana para mahasiswa dilatih untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, membuat, serta menggunakan kesempatan untuk membangun usaha yang besar dengan kepercayaan diri yang penuh melalui pengalaman yang didapatkannya di kelas tersebut,” ungkapnya.
 
Lebih jauh ia menambahkan, seorang entrepreneur harus memiliki dan menggunakan logika prediktif dan kreatif dalam menjalankan usaha serta memecahkan masalah sebab tidak semua usaha berjalan sesuai rencana (business plan). Menurutnya, kemampuan tersebut dapat mulai dibangun dalam setiap diri individu dengan mengimplementasikannya pada berbagai permasalahan kecil yang terjadi di kehidupan sehari-hari.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif