Lima mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil membawa emas pada ajang kompetisi Inovasi Karya di Jepang - foto: UNS.
Lima mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil membawa emas pada ajang kompetisi Inovasi Karya di Jepang - foto: UNS.

Mahasiswa UNS Sabet Emas di Jepang Berkat Kotoran Kerbau

Pendidikan prestasi mahasiswa Pendidikan Tinggi
Intan Yunelia • 04 Juli 2019 12:34
Jakarta: Lima mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil membawa emas pada ajang kompetisi Inovasi Karya di Jepang. Kompetisi bertemakan 'Japan Design, Idea and Invention Expo' ini berlangsung di Tokyo Washington Hotel, Tokyo, Jepang, 15 hingga 17 Juni 2019.
 
Lima mahasiswa tersebut adalah Sofia Oka Rodiana dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dan empat mahasiswa dari Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian (FP) yaitu Rizhal Akbar Jaya Pratama, Nor Isnaeni Dwi Arista, Rahma Amira Zhalzabila Wakak Megow dan Hifqi Himawan.
 
Kelima mahasiswa UNS ini menciptakan Bongi Mosquito Killer, yaitu spray untuk membunuh nyamuk yang terbuat dari kotoran kerbau. "Tidak sekadar untuk mengusir nyamuk, spray yang kami ciptakan ini mampu membunuh nyamuk," kata Sofia, Jakarta, Kamis, 4 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nama Bongi merupakan kependekan dari bahasa jawa, yaitu 'Kebo Wangi'. "Branding" tersebut menggambarkan produk yang dibuat berasal dari kotoran kerbau atau dalam bahasa Jawa disebut dengan 'Kebo'.
 
Kelima mahasiswa yang duduk di semester empat tersebut mempresentasikan karya di hadapan dewan juri dan finalis lomba dari berbagai negara. Antara lain Kanada, Iran, Taiwan, Korea, Hong Kong, Cambonia, Sudan, Saudi Arabia, Chengdu, Malaysia, Vietnam dan lain-lain.
 
Sofia dan Rahma mendapatkan kesempatan untuk tampil mempresentasikan produk inovasi. Ide produk tersebut muncul ketika salah satu mahasiswa Agroteknologi, Rizhal melakukan praktikum di Karanganyar yang melihat kotoran kerbau tak termanfaatkan oleh masyarakat.
 
Sejauh ini kotoran kerbau baru dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pupuk kandang. Hal ini menjadikan Rizhal berpikir untuk menyulap kotoran menjadi sesuatu yang lebih bernilai untuk memberdayakan masyarakat, khususnya masyarakat Karanganyar.
 
“Dengan inovasi ini kami berharap dapat menjadi motor penggerak penelitian mahasiswa yang lain dan selanjutnya semoga kami dapat melakukan publikasi jurnal internasional,” tutur dia.

 

(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif