Siswa di Palembang, Sumatera Selatan dipulangkan dan diliburkan karena kabut asap tebal yang menyelimuti sekolah mereka. Foto:  MI/Ramdani.
Siswa di Palembang, Sumatera Selatan dipulangkan dan diliburkan karena kabut asap tebal yang menyelimuti sekolah mereka. Foto: MI/Ramdani.

Kabut Asap, KPAI Dorong Siswa Belajar Daring

Pendidikan kabut asap
Muhammad Syahrul Ramadhan • 16 September 2019 11:55
Jakarta: Kabut asap yang terjadi Provinsi Riau, Kalimantan Barat hingga Kalimantan Tengah membuat proses belajar mengajar, sejumlah siswa pun terpaksa diliburkan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendorong pihak sekolah untuk menyiapkan strategi pembelajaran berbasis daring, agar anak tidak ketinggalan pelajaran.
 
“Ini (belajar daring) agar seluruh peserta didik di wilayah bencana asap tetap dapat mengikuti pembelajaran, tanpa harus keluar rumah atau dengan belajar di rumah,” kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti dalam siaran persnya, Jakarta, Senin, 16 September 2019.
 
Retno menjelaskan, wali kelas, guru dan siswa membuat grup di aplikasi messenger. Nantinya tugas-tugas bisa dibagikan melalui grup tersebut. Bagi yang tidak paham tugas tersebut, dapat berdiskusi dengan guru secara langsung.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nantinya tugas-tugas tersebut dapat dikumpulkan saat masuk sekolah kembali. Tugas juga bisa dikirim melalui e-mail kepada guru mata pelajaran masing-masing. “Sehingga para guru juga bisa tetap bekerja di rumahnya mengoreksi tugas para siswanya. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak terhenti,” terangnya.
 
Untuk mengakomodasi hal tersebut, KPAI juga meminta orang tua untuk berpartisipasi dengan menyediakan paket internet anak-anaknya, guna keperluan pembelajaran daring. Para orang tua juga wajib mendampingi, membimbing dan mengawasi anak-anaknya selama anak belajar di rumah.
 
“KPAI mendorong para orang tua untuk memperhatikan asupan makanan sehat dan bergizi agar anak-anak memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik, sehingga tetap sehat selama bencana asap berlangsung,” kata Retno.
 
KPAI juga mendorong pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk bersinergi mengatasi kebakaran hutan dan segala dampaknya. Terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan lainnya.
 
“Bangsa Indonesia harus menyadari bahwa kebakaran hutan adalah bahaya tahunan, sehingga pemerintah Indonesia seharusnya membangun kesiapsiagaan bencana kebakaran hutan,” ujarnya.
 
Retno menuturkan, bahaya kebakaran hutan di Indonesia akan terus ada dan diperkirakan akan semakin sering terjadi akibat peningkatan suhu udara yang dibawa oleh perubahan iklim. Kunci pengelolaan kebakaran hutan adalah program-program pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan yang dilakukan sepanjang tahun.
 
“Melalui pengelolaan hutan dan peningkatan kesadaran masyarakat, sumber daya yang memadai, dan koordinasi yang kuat,” jelasnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif