Ilustrasi. Foto: MI/Bary Fathahilah
Ilustrasi. Foto: MI/Bary Fathahilah

Pendidikan Berbasis Kompetensi Tak Sekadar Pandai Menghafal

Pendidikan Kurikulum Pendidikan
Citra Larasati • 25 Oktober 2019 20:04
Jakarta: Harapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim tentang pendidikan berbasis kompetensi dan karakter yang disampaikan dalam pidato pertamanya sebagai menteri mendapat tanggapan positif dari Praktisi Pendidikan, Najelaa Shihab.
 
Ia pun menerjemahkan, bahwa makna kompetensi dan karakter dalam pendidikan ternyata tak sama dengan mampu menghafal dan mengerjakan soal ujian. Melainkan kemampuan murid untuk melakukan aksi, mendemonstrasikan apa yang sudah dipelajari dalam berbagai situasi yang baru, hingga memecahkan permasalahan dalam kehidupan.
 
Menurut Najelaa, dalam pembelajaran, murid akan melakukan serangkaian tahapan, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Rangkaian proses ini nantinya akan mendorong keterampilan berpikir murid.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam pendidikan yang berbasis kompetensi, kata Najelaa, setiap kompetensi nantinya akan mengandung banyak dimensi. Tidak seperti sebelumnya yang hanya mengandung satu dimensi di mana murid hanya perlu menghafalkan materi dan menyebutkan kembali saat ujian.
 
"Untuk mencapai kompetensi tersebut, nantinya murid juga tetap harus menguasai materi, memiliki pengetahuan dasar, dan pemahaman esensial, sebelum melangkah dan mempraktikkan apa yang diketahui dan dipahaminya dalam dunia nyata,” jelas Najelaa.
 
Bagi Najelaa Shihab, yang telah aktif dalam dunia pendidikan selama lebih dari 20 tahun ini, karakter merupakan bagian yang sangat penting dari pengembangan kompetensi. Karakter ini pula yang akan menjadi dasar bagi murid untuk dapat menerapkan kompetensinya di mana saja.
 
“Anda bisa bayangkan pengalaman kita di sekolah dulu, karakter dalam bentuk nilai-nilai Pancasila dan agama biasanya hanya ditampilkan dalam bentuk ceramah, dan biasanya hanya menjadi sesuatu yang bisa dijawab dengan sempurna di lembar kerja siswa atau pada saat ujian saja. Tapi, belum tentu muncul dalam bentuk perilaku sehari-hari di sekolah ataupun sesuatu yang bisa ditransfer di rumah,” papar Najelaa.
 
Bagi Najelaa, pendidikan yang berbasis kompetensi itu berorientasi pada keinginan untuk meningkatkan standar pencapaian. Bukan hanya sekedar hafalan, tapi juga sampai pada pemahaman dan kemampuan mempraktikkan.
 
“Itulah karakter sesungguhnya yang akan mendorong anak untuk mempunyai kompetensi-kompetensi lainnya,” tegas Najelaa, yang juga pendiri Rumah Main Cikal, Sekolah Cikal, dan Kampus Guru Cikal.
 
Najelaa bersama Cikal, sebagai komunitas pelajar sepanjang hayat, telah mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi dan karakter yang disebut Kompetensi lima Bintang Cikal. Kurikulum ini ditujukan untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi masa depan.
 
“Sekolah bukan hanya untuk sekadar sekolah saja, tapi bagaimana kesuksesan di sekolah itu jadi bekal untuk anak-anak sukses dalam kehidupan di masa depan nanti,” tutup Najelaa.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif