Indonesia Dinilai Perlu Memutakhiran Sistem Pendidikan
Ilustrasi--digitalisasi dunia pertanian. (Foto: ANTARA/Risky Andrianto)
Jakarta: Tak bisa lagi dipungkiri, dunia terus bergerak menuju perubahan zaman. Begitu juga dengan perkembangan kehidupan manusia.

Hidup hari ini bukan tidak mungkin akan sangat jauh berbeda dengan hari esok, apa lagi di era serba digital dengan beragam kemudahan berkat dukungan teknologi. 


Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji mengungkap, kehidupan sosial manusia yang dimulai dari berburu kemudian beralih ke pertanian hingga industri kini mulai beranjak menuju digitalisasi.

Perubahan-perubahan sosial itu akan terus menerus terjadi mengikuti pola kehidupan manusia. Dan bicara digitalisasi di era teknologi, manusia di masa depan diprediksi akan hidup berdampingan dengan robot.

"Bahkan baru saja keluar research dari World Economic Forum, bahwa mulai 2027 tugas guru dan dosen akan digantikan oleh robot. 9 tahun dari sekarang," katanya, dalam Selamat Pagi Indonesia, Jumat 9 Februari 2018.

Sayangnya, dibandingkan dengan negara lain, penduduk Indonesia yang berjumlah sangat banyak sulit mengejar ketertinggalan dalam hal kemajuan teknologi.

Salah satu pekerjaan rumah yang perlu jadi perhatian adalah bagaimana semua pihak terutama pemerintah mulai mendorong dan mendukung kreatifitas dan inovasi anak-anak Indonesia, terutama di bidang teknologi. 

Sebagai contoh, kata Indra, di negara lain seperti Tiongkok, Amerika Serikat, bahkan India, negara, orang tua, dan masyarakat mendukung anak-anaknya untuk mengembangkan kreatifitas dan inovasi dalam hal teknologi.

"Di negara kita justru bertentangan. Indonesia masih mencari anak-anak penurut. Kalau penurut kan susah menciptakan hal yang baru karena biasanya penurut itu mengikuti yang sudah ada," katanya.

Indra menyebut ironis ketika anggaran pendidikan yang mencapai ratusan triliun tidak dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas pendidikan. Padahal sudah saatnya Indonesia mereformasi sistem pendidikan dalam pendekatan teknologi.  

Indra bahkan menyebut sistem pendidikan di Indonesia saat ini masih dengan pola lama, dipersiapkan untuk menghadapi zaman industri, padahal eranya sudah berubah.

"Sekolah kita didesain mirip (industri) pabrik. Karena kita disiapkan untuk kerja di pabrik. Pabrik pakai bel, sekolah juga pakai bel," katanya.

Sementara di Indonesia masih menyiapkan generasinya sesuai dengan zaman industri, negara lain sudah menerapkan kurikulum baru sesuai dengan pendekatan teknologi.

"Ada yang menyebutnya coding, computer programing, computer science, macam-macam lah," kata Indra. 

Bahkan generasi muda Indonesia yang sudah berhasil mengharumkan nama bangsa lewat inovasi teknologi kerap kali tak mendapat apresiasi. Apresiasi tinggi justru datang dari negara lain.

Menurut Indra, selama tidak ada kesadaran, political will dari semua pihak, Indonesia dinilai tak akan mengalami kemajuan berarti. Ia pun meminta agar pemerintah mulai memikirkan apa yang terbaik untuk bangsa.

"Harus mulai dari RI 1 dulu, kalau RI 1 sudah bicara akan menyebar ke bawah. Memang beliau banyak membuka infrastruktur tapi jangan lupa juga harus menyentuh manusianya. Bagaimana menyiapkan SDM yang mampu bersaing dengan anak dari negara manapun," jelasnya.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id