Siswa Sekolah Dasar. Foto: MI/Barry Fathahillah
Siswa Sekolah Dasar. Foto: MI/Barry Fathahillah

Alasan Nadiem Membuka Sekolah di Zona Kuning

Pendidikan Virus Korona sekolah Kenormalan Baru
Ilham Pratama Putra • 07 Agustus 2020 20:46
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memperbolehkan sekolah di zona kuning covid-19 untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka. Keputusan ini sekaligus menjadi akhir dari pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di 276 kabupaten kota di seluruh Indonesia yang berstatus zona hijau maupun kuning.
 
Mendikbud, Nadiem Makarim menyebut, PJJ memang tidak bisa dilakukan terus menerus. Keputusan inipun diambilnya, salah satunya karena melihat PJJ memiliki dampak negatif.
 
"Bahwa efek daripada melakukan PJJ secara berkepanjangan itu bagi siswa adalah efek yang bisa sangat negatif dan permanen," kata Nadiem Webinar Penyampaian Penyesuaian Surat Keputusan Bersama (SKB) empat Menteri dan Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus, Jumat 7 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga:SKB Empat Menteri Direvisi, PAUD Tetap Belajar dari Rumah
 
Menurutnya ada tiga dampak buruk dari PJJ. Salah satunya ancaman siswa putus sekolah di tengah pandemi, karena sulitnya perekonomian.
 
"Ada berbagai macam anak yang terpaksa bekerja, akhirnya mereka putus sekolah. Kemudian akhirnya persepsi orang tua berubah tentang peran sekolah dalam proses pembelajaran yang tidak optimal. Karenanya ancaman putus sekolah adalah dampak yang real dan bisa berdampak seumur hidup bagi anak-anak kita," jelas Nadiem.
 
Yang kedua, PJJ membuat capaian belajar siswa menjadi menurun. Nadiem menyebut, PJJ sangat tidak optimal dalam sisi capaian belajar.
 
"Dan kesenjangan kualitas antara yang punya akses ke teknologi dan yang tidak itu, jadi semakin besar. Kita berisiko punya generasi dengan Learning Loss. Di mana akan ada dampak permanen dalam generasi kita, terutama bagi yang lebih muda jenjangnya," sambung dia.
 
Baca juga:Nadiem: Sekolah di Zona Kuning Boleh Dibuka
 
Kemudian PJJ kata Nadiem, juga membawa siswa dalam kondisi mental yang tidak stabil. Anak yang terlalu lama PJJ bakal diterpa rasa stress.
 
"Ada juga banyak riset yang menunjukkan peningkatan kekerasan pada anak dan risiko psikososial. Dengan stres di dalam rumah, tidak bisa ketemu temannya, dan-lain-lain. Jadi ada dampak psikologis, dampak masa depan anak-anak kita melakukan PJJ secara berkepanjangan ini real," pungkas Nadiem.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif