Siswi MAN 1 Kudus menunjukan alat pendeteksi gempa buatannya, Medcom.id/Rhobi Shani.
Siswi MAN 1 Kudus menunjukan alat pendeteksi gempa buatannya, Medcom.id/Rhobi Shani.

Tak Semua Mapel Khas Madrasah Masuk Ujian Akhir

Pendidikan Madrasah
Intan Yunelia • 31 Desember 2018 09:04
Jakarta: Kementerian Agama (Kemenag) melalui Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag akan melakukan penyesuaian format penyelenggaraan Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN). Oleh karenanya tak semua Mata Pelajaran (Mapel) ciri khas madrasah diujikan dalam UAMBN.
 
Direktur Kurikulum, Sarana, Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah, Ahmad Umar mengatakan, selama ini semua Mapel ciri khas madrasah selalu diujikan dalam UAMBN. Mata pelajaran tersebut ada lima diantaranya Qur'an Hadits, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Bahasa Arab, dan Akidah Akhlak.
 
"Ke depan, kelima mata pelajaran itu akan diujikan dalam format baru, yaitu Qur'an Hadits, Fiqih, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) akan diujikan dalam UAMBN. Sedang Bahasa Arab dan Akidah Akhlak akan diujikan dalam materi uji yang diujikan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN)," kata Ahmad di Jakarta, Senin 31 Desember 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kebijakan ini sudah dipertimbangkan dari berbagai karakteristik mapel yang menjadi ciri khas madrasah. Pun juga pertimbangan terkait keperluan madrasah dalam melakukan pengukuran kompetensi siswa dalam kelulusannya.
 
Baca:Siswa Terdampak Bencana Disiapkan UN Khusus
 
Untuk mapel Qur'an Hadis, Fikih, dan SKI tetap diujikan pada UAMBN karena tingkat penggalian kompetensinya masih dapat dijangkau melalui soal pilihan ganda yang tersedia pada mekanisme penyusunan soal UAMBN. "Nilai yang diperoleh di tiga mata pelajaran ini nantinya akan dipakai juga sebagai bahan mengisi data yang akan dipertimbangkan dalam penetapan kelulusan," ujar Ahmad.
 
Sementara itu, mapel Bahasa Arab dan Akidah Akhlak yang masuk dalam USBN telah dipertimbangkan pengukurang kompetensinya. Selain pilihan ganda, diperlukan soal yang dapat mengukur keterampilan berbahasa dan sikap kepribadian siswa.
 
"Sebab, pengelolaan penyelenggaraan USBN walau kisi-kisi dan soalanchor-nya dari pusat namun keseluruhan pengelolaannya dapat dilakukan oleh madrasah. Sehingga, soal ujian dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan kondisi madrasah untuk mengukur kompetensi siswa yang akan ditetapkan kelulusannya," papar Ahmad.
 
Dengan kebijakan ini, Ahmad optimis siswa tidak akan dirugikan. Karena kompetensinya telat teramati secara gamblang dalam menentukan kelulusan siswa.
 
"Kebijakan ini bahkan meringankan, karena kelima mapel tersebut hanya akan diujikan sekali dalam ujian akhir siswa madrasah, di UAMBN atau USBN," pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif