Koordinator Kelompok Kerja Kajian Pemilu UGM, Abdul Ghaffar Karim, Medcom.id/Ahmad Mustaqim.
Koordinator Kelompok Kerja Kajian Pemilu UGM, Abdul Ghaffar Karim, Medcom.id/Ahmad Mustaqim.

UGM Siapkan Kajian Meninggalnya Petugas KPPS

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Ahmad Mustaqim • 09 Mei 2019 16:40
Sleman: Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menyiapkan kajian tentang meninggalnya ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dalam pemilu serentak 2019 lalu. UGM telah menyiapkan tim yang akan bekerja hingga beberapa pekan ke depan.
 
Koordinator Kelompok Kerja Kajian Pemilu UGM, Abdul Ghaffar Karim mengatakan, kasus kematian sekitar 450 penyelenggara pemilu itu harus dilihat dari berbagai sudut keilmuwan. Menurut dia, kajian bertujuan melihat secara komprehensif apa saja faktor penyebabnya.
 
"Jika dihitung, angka 450 meninggal tidak terlalu ajaib. Karena politik, kajian harus bersih dari spekulasi politik," kata Ghaffar di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Kamis, 9 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejumlah dugaan muncul atas kasus itu. Kematian dianggap sengaja untuk mengacaukan pemilu. Di sisi lain, depresi yang kemungkinan dialami penyelenggara pemilu akibat tudingan yang dilakukan elit politik.
 
Dari informasi yang Ghaffar terima dari sejumlah penyelenggara, mereka takut disebut bertindak curang."Ada dua informasi, ada perempuan hamil keguguran akibat tekanan tugas," ujarnya.
 
Ia mengatakan, riset akan dimulai hingga beberapa pekan ke depan. Ia belum bisa memastikan hingga kapan ini bisa selesai. Kajian akan dimulai dengan menemui penyelenggara pemilu di Yogyakarta yang masih sakit.
 
Baca:Petugas KPPS Wafat Capai 412 Orang
 
Tim pengkaji, kata dia, akan melihat perlunya kajian diperluas. "Dugaan awal (penyebab kematian) tekanan dari elit politik, tapi kami akan pastikan hasil kajian lapangan lebih dulu," ujarnya.
 
Dekan FISIP UGM, Erwan Agus Purwanto mengatakan, anggota tim kerja akan segera berkumpul untuk membahas teknis di lapangan. Tim tersebut berasal dari FISIP, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) dan Fakultas Psikologi.
 
Setiap fakultas akan mengirimkan dua orang anggota. Mereka juga akan bekerja sama dengan 10 kampus di Indonesia yang memiliki kajian tentang pemilu.
 
"Seperti Universitas Lampung, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan Universitas Cendrawasih," kata dia.
 
Baca:Moeldoko Pastikan Petugas KPPS Ditanggung Negara
 
Erwan mengatakan kajian akan dilakukan segera, mengingat hal ini jadi persoalan mendesak yang dinanti semua orang. Dalam pekan ini tim tersebut mulai bekerja.
 
"Sebetulnya ada apa saudara kita meninggal. Tak ada diinginkan meninggal sebanyak itu," kata dia.
 
Dekan FKKMK, Ova Emilia mengatakan, perlu adanya prosedur dan syarat pemeriksaan kesehatan fisik maupun mental penyelenggara pemilu itu. Ia mengatakan, penyebab meninggalnya seseorang pasti ada pemicu utama.
 
"Kelelahan dan biasa terlatih dan punya kekuatan baik. Jika punya faktor risiko tertentu, mungkin sangat luas. Misalnya risiko penyakit tak diketahui," ujarnya.
 
Baca:UGM Kampus Terbaik Versi Webometric
 
Di kalangan dokter, kata dia, banyak yang tak tahu jika memiliki sakit jantung. Sangat memungkinkan hal itu menimpa orang awam.
 
"Kejadian seperti ini, memang kita lakukan penelusuran. Bukan hanya otopsi fisik, tapi juga verbal. Otopsi fisik bila diperlukan ke sana," ujarnya.
 
Ia menambahkan, kajian akan melihat kasus per kasus. Apabila tak memuaskan baru diperlukan autopsi," katanya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif