Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Ilustrasi. Foto: MI/Rommy Pujianto.

BRIN: Pandemi Jadi Pembelajaran Periset Kembangkan Vaksin

Pendidikan penelitian Riset dan Penelitian pandemi covid-19 BRIN
Antara • 26 Januari 2022 17:47
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengharapkan pandemi covid-19 dapat menjadi pembelajaran bagi seluruh periset. Khususnya, untuk lebih mandiri dalam pengembangan vaksin.
 
"Saat ini posisi kita menjadi bagian dari 194 kandidat vaksin yang sedang dikembangkan di seluruh dunia," ujar Pelaksana Tugas Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati BRIN Iman Hidayat dalam acara 'Talk to Scientist' yang diikuti secara daring di Jakarta, Rabu, 26 Januari 2022.
 
Ia mengatakan posisi Indonesia itu merupakan bagian dari upaya menjawab tantangan pandemi covid-19 yang sedang melanda dunia. "Jadi itulah situasinya daya saing kita dalam konteks saat ini menjawab health resilience, khususnya menjawab tantangan pandemi covid-19," ungkapnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kendati demikian, ia menyayangkan, sudah dua tahun lebih Indonesia masih dalam konteks baru atau menyelesaikan uji klinis vaksin covid-19. "Kita tidak bisa secepat negara lain seperti Tiongkok, Amerika Serikat, bahkan India untuk mengembangkan vaksin," tuturnya.
 
Menurut dia, terdapat tiga kendala Indonesia belum dapat menyelesaikan pengembangan vaksin Merah Putih, yakni peneliti di Indonesia belum memiliki pengalaman untuk mengembangkan vaksin dari nol.
 
"Jadi vaksin seperti polio dan lainnya yang diproduksi Bio Farma itu adalah kita membeli lisensi, tidak membangun dari nol," ujarnya.
 
Baca: Vaksin Merah Putih Bersiap Menuju Tahap Uji Praklinis
 
Kemudian, lanjut dia, kolaborasi dengan industri. Hal itu masih menjadi titik lemah Indonesia karena industri di Indonesia tidak banyak yang memiliki fasilitas Research and Development (RnD) pengembangan vaksin. Dan kendala terakhir adalah infrastruktur yang kurang.
 
"Tiga botleneck ini cukup kronis di Indonesia, dan itu dialami saat ini sehingga diperlukan tindakan, salah satunya BRIN membangun beberapa fasilitas dan memfasilitasi periset untuk mengakselerasi hasilnya," kata Iman.
 
Saat ini, lanjut dia, pengembangan Vaksin Merah Putih sedang dikembangkan oleh enam lembaga, yakni Eijkman, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institute Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Airlangga dengan berbagai platform.
 
Peneliti PRBM Eijkman BRIN Tedjo Sasmono mengatakan saat ini perkembangan Vaksin Merah Putih yang diteliti oleh timnya sudah dalam tahap hilirisasi di mitra industri, yakni PT Bio Farma.
 
Ia berharap, dalam waktu dekat sudah bisa dilakukan uji praklinis dan klinis. "Semoga vaksin covid-19 karya anak bangsa ini bisa berkontribusi dalam penanggulangan pandemi dan menjadi wahana untuk kemandirian bangsa dalam riset vaksin," ungkapnya.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif